Di bawah terik matahari yang bersinar sejak pagi, ribuan orang sudah berkumpul di Lapangan Panjalu, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis, Senin (23/3). Jangan salah sangka, mereka bukannya sedang ramai-ramai ikut kampanye salah satu parpol menjelang pemilu legislatif, namun sedang mengikuti upacara adat nyangku yang merupakan warisan dari raja-raja Panjalu, yang hingga saat ini keberadaannya tetap dilestarikan.

Selain diikuti keluarga besar atau keturunan Raja Panjalu, Prabu Sanghyang Borosngora yang datang dari seluruh penjuru tanah air, ritual tahunan tersebut juga diikuti hadiri masyarakat dari pelbagai kalangan. Mereka tidak hanya datang dari Ciamis Jabar tetapi juga dari Jawa Tengah, bahkan Jawa Timur.

Selain dari kalangan masyarakat umum, beberapa utusan dari keraton lain juga tampak hadir, di antaranya Pangeran Raja Moch. Qodiran dari Keraton Kanoman Cirebon. Acara juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ciamis Cu Herman yang mewakili Bupati Ciamis serta sejumlah pejabat lainnya. Beberapa calon anggota legislatif juga tampak hadir.

Nyangku sendiri berasal dari kata yanko (bahasa Arab) yang artinya membersihkan. Secara eksplisit kegiatan itu dilakukan dengan membersihkan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Panjalu, di antaranya pedang, cis, keris komando, bangreng dan gong kecil. Salah satu yang menjadi maskot pusaka peninggalan kerajaan Panjalu adalah sebilah pedang milik Prabu Sanghyang Borosngora. Pada bagian pedang tersebut terdapat tulisan arab yang berbunyi, Inilah pedang milik Syadyidina Ali Karoamllahu Wajhahu.

Seperti halnya di tempat lain seperti menyuci atau jamasan di Kraton Yogyakarta maupun Surakarta, air bekas cucian pusaka itu menjadi rebutan masyarakat yang berharap mendapatkan berkah. Namun, kali ini rebutan itu tidak begitu kentara sebab sebelumnya juga telah diserukan kepada masyarakat agar tidak menyebabkan syirik. Meski demikian, tetap saja beberapa orang nekat meminta air bekas cucian.

“Semoga dapat berkah saja. Meski hanya dapat sedikit, saya cukup senang. Mudah-mudahan tetap dikaruniai kesehatan dan keselamatan serta mudah rezeki,” ungkap Ny. Oneng (63), warga Panjalu.

Ketika semakin banyak yang mencoba merangsek untuk mendapat air pencucian pusaka, tiba-tiba salah seorang yang mengenakan pakaian adat langsung naik ke panggung yang sebelumnya telah ditinggalkan petugas khusus pencuci.

Di bawah tatapan ratusan masyarakat yang mengitari panggung, orang tersebut langsung menumpahkan air sisa bekas mencuci pusaka yang ada di dalam gentong plastik yang dililit kain putih.

Menurut sesepuh Panjalu yang juga masih keturunan Prabu Borosngora, R.H. Atong Cakradinata, didampingi putranya R. H. Edi Hernawan Cakradinata, tujuan dari kegiatan adat nyangku pada zaman dahulu adalah untuk membersihkan benda pusaka kerajaan Panjalu sebagai salah satu visi penyebaran agama Islam.

“Adapun hakikat dari upacara nyangku sekarang adalah membersihkan diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh agama Islam sekaligus bertujuan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw., serta untuk mempererat tali silaturahmi persaudaraan masyarakat Panjalu,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s