”Ladies” of Bandung adalah bangunan-bangunan rumah tinggal yang memilki nama perempuan, dan merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah yang ada di kota Bandung. Rumah-rumah tinggal ini dibangun sekitar tahun 1915 sampai dengan tahun 1930 oleh pemerintah Belanda.

Awal tahun 1900, Bandung sempat dicalonkan sebagai ibukota Hindia Belanda, dengan rencana memindahkan Batavia ke Bandung. Maka langkah persiapan itu direncanakan, salah satunya dengan membangun bangunan-bangunan pemerintahan dan pemukiman dengan rencana tata ruang yang baik. Sehingga pada kurun waktu tersebut, kota Bandung mengalami pembangunan yang intensif. Pembangunan itu pun membuat Bandung menyimpan banyak karya arsitektur bergaya Indo-Eropa. Hal tersebut membuat Bandung saat itu dijuluki The Most European City in the East Indies.

Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Kebanyakan peninggalan sejarah di Bandung itu berumur sekurang-kurangnya 50 tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Karena bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung ini biasanya berupa bangunan rumah tinggal dan langgam arsitekturnya sangat sederhana, maka kebanyakan orang tidak menyadari akan adanya sesuatu yang unik pada bangunan tersebut, yang tidak lain adalah nama yang terdapat pada fasad bangunan rumah tinggal, sehingga bangunan-bangunan rumah tinggal ini disebut sebagai “Ladies” of Bandung.

Sayang, koleksi berharga itu tak diimbangi dengan tingginya apresiasi masyarakat terhadap konservasi bangunan lama. Padahal bangunan lama itu dapat menunjukan keragaman budaya dan sejarah generasi masa lampau. Masalah perkotaan yang kompleks dewasa ini telah menyebabkan eksistensi sebagian besar karya arsitektur, di Bandung terancam. Seiring dengan perkembangan jaman pada umumnya, dan tentu saja perkembangan kota Bandung pada khususnya, ditambah lagi dengan kurangnya perhatian masyarakat pada bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung, maka sedikit demi sedikit keberadaan bangunan ini mulai tersingkir.  Seperti misalnya yang terjadi pada 5 bangunan rumah tinggal yang terletak di Jalan Anggrek. Ke-5 rumah tersebut seharusnya memiliki nama, tapi yang terjadi sekarang adalah fasad bangunan tersebut telah mengalami banyak perubahan, dan nama bangunannya telah hilang.

Para pemilik rumah mungkin tidak menyadari bahwa rumah milik mereka tersebut telah memasuki tahapan bangunan yang perlu dilerstarikan keberadaannya, mengingat bangunan tersebut telah berumur lebih kurang 50 tahunan bila dihitung dari tahun pembuatannya yang berkisar antara tahun 1917-an sampai dengan tahun 1930-an. Selain itu, rumah tersebut juga memiliki gaya arsitektur yang mewakili style yang pernah berkembang pada jamannya dan pernah mewarnai kekayaan gaya arsitektur yang berkembang di kota Bandung pada saat itu. Sebagian besar pemilik bangunan, biasanya tidak menyadari hal ini, bahkan tidak pernah mengetahui tentang “Ladies” of Bandung dan memahami arti nama yang tertera pada fasad bangunan rumah mereka.

Selain itu. Istilah “Ladies” of Bandung ini bagi sebagian orang, bahkan bagi para mahasiswa arsitektur pun, masih banyak yang kurang memahami. Memang bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung ini tidak pernah sampai mendunia seperti karya-karya arsitektur lainnya. Mungkin juga, “Ladies” of Bandung ini hanya dilihat sebagai sebuah gejala arsitektur yang hanya lewat dan berkembang sesaat di kota Bandung.

Menurut Frances B. Affandy, Direktur Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage), bangunan “Ladies” of Bandung ini boleh dibilang telah menjadi ciri kota Bandung, karena bila dibandingkan dengan kota besar lainnya, maka di kota Bandung ini terdapat paling banyak bangunan dengan nama wanita. Kota Bandung sendiri memiliki 121 bangunan dengan penamaan yang tertera di fasadnya, dan 70 diantaranya menggunakan nama wanita.

Sesuai dengan perhatian penulis pada masalah sejarah dan pelestarian bangunan lama , maka penulis mencoba untuk membahas keberadaan bangunan “Ladies” of Bandung , sebagai bagian dari sejarah dan perkembangan gaya arsitektur yang pernah ada dan berkembang di kota Bandung pada masanya. Sedangkan pembahasannya adalah melalui pendeskripsian ciri, karakter dan kemungkinan masuknya ke kota Bandung pada periode tertentu.

Irma Vannia
Comments
  1. iqbal abdullah says:

    kang atau teteh salam kenal, nama saya iqbal, kebetulan saya dan rekan rekan di pangalengan sedang dalam proses pendirian komunitas ‘pangalengan poenja tjerita’ komunitas ini bertujuan untuk mengembalikan pangalengan seperti dulu dan tentu saja melestarikan kebudayaan dan peninggalan jaman dulu, mohon bimbingan dan bantuannya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s