Bagian selatan Jawa Barat memang memiliki kekayaan alam luar biasa, baik yang kasatmata, seperti panorama, hutan, sungai, pantai, dan samudra, maupun yang berada di balik perut bumi. Terdapat juga beraneka mineral, seperti emas, perak, tembaga, fosfat, batu bara, dan banyak lagi.

Sinyalemen Hidayat Soetanto (Kompas Jabar, 27/1) yang menghubungkan kekayaan alam Jabar selatan dengan Si Kuik tidak meleset sedikit pun. Pemerintah kolonial Belanda membangun jalur kereta api ke wilayah selatan, baik Si Kuik dari Banjar ke Cijulang, di Ciamis maupun Si Gombar dari Cibatu ke Cikajang di Garut. Itu lebih banyak menyembunyikan misteri daripada memberikan kenyataan dalam kenyamanan moda angkutan modern murah meriah bagi penduduk setempat.

Terlalu besar nilai investasi yang mereka keluarkan dibandingkan manfaat yang akan mereka petik. Kereta api hanya memperlancar lalu lintas ke kawasan selatan yang curam dan kurang potensial ditinjau dari aspek sumber daya manusia saat itu.

Setiap kolonialis-imperialis mengemban misi glory (kemenangan fisik dan geografis terhadap tanah jajahannya) dan gold (mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dari jajahan tersebut). Itulah yang terjadi pada masa old colonialism abad ke-16 hingga awal abad ke-20 di seluruh muka bumi. Negara-negara kolonialis-imperialis benua Eropa, seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, Italia, menjejakkan cakar kaki mereka di benua Asia, Afrika, dan Amerika dengan kekuatan militer, politik, sosial, dan budaya.

Mereka berhasil mengeruk apa saja dari permukaan bumi hingga ke perut bumi. Ketika negara yang sudah dikuras habis itu ditinggalkan dan dimerdekakan, yang tinggal adalah hampas garing dan pertarungan berlarut-larut. Maka, negara itu praktis masih berada dalam penjajahan ideologi, bahkan administrasi, walaupun secara militer dan politik sudah terbebaskan.

Penjajahan Belanda

Dalam rentang 350 tahun menjajah Indonesia, Belanda tidak punya cukup waktu untuk menggali kekayaan mineral yang terpendam di kawasan terpencil, terutama di selatan Pulau Jawa, khususnya di Jabar dari Kabupaten Ciamis di timur hingga Kabupaten Sukabumi di barat. Hanya permukaan tanah yang sempat mereka eksploitasi melalui perkebunan-perkebunan teh terkenal, seperti Batulawang (Ciamis), Taraju (Kabupaten Tasikmalaya), Papandayan, Dayeuhmanggung, Giriawas, Cisaruni, Pamegatan (Kabupaten Garut), dan Malabar (Kabupaten Bandung).

Adapun kekayaan bawah tanah baru sebatas reka rencana yang menjelma menjadi semacam mitos atau semacam dugaan belaka. Hanya sebagian kecil yang sudah terbuktikan, seperti emas di Salopa (Kabupaten Tasikmalaya). Itu pun lebih bersifat pertambangan rakyat daripada perusahaan negara atau daerah yang sehat dan berkembang. Yang lainnya masih tersembunyi di balik kisah-kisah berbau mistik dan misteri.

Umpamanya saja di Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Kota kecil ini semula bernama Kandangwesi karena merupakan “kandang” dari beraneka mineral besi. Hingga sekarang rahasia “kandang wesi” masih tetap menjadi incaran pencari keuntungan dari kegiatan pertambangan.

Pada 1970-an pernah dihebohkan, sungai-sungai besar di Bungbulang yang bermuara ke Samudra Hindia beraroma anyir besi sebagai pertanda di bagian hulu merupakan area mineral besi berikut segala sanak saudara sesama logam (emas, perak, kuningan, tembaga, suasa, dan lainnya).

Beberapa hutan tutupan di Kabupaten Garut ada yang dirambah untuk dijadikan galian bahan tambang, tetapi belum terdengar keberhasilannya kecuali kerusakan hutan yang semakin meluas.

Ketar-ketir

Jika Soesanto antusias mendorong upaya pembuktian kekayaan mineral kawasan selatan Ciamis hingga menyerupai PT Freeport “kecil-kecilan-, mayoritas masyarakat di kawasan selatan Garut justru ketar-ketir”. Mereka takut daerah tempat tinggal mereka benar-benar mengandung kekayaan alam menggiurkan itu.

Fakta menunjukkan, setiap daerah yang memiliki kekayaan mineral bukan menguntungkan penduduk setempat, melainkan malah merugikan. Mereka pasti terusir dari permukiman warisan karuhun dan harus hengkang ke tempat lain karena tanah mereka akan dieksploitasi dan dieksplorasi.

Keberadaan PT Freeport di Papua menjadi contoh nyata. Emas, perak, dan tembaga mengalir menjadi devisa. Namun, rakyat yang semula hidup aman, damai, dan mulia menjadi teraniaya serta tercerabut dari akar budaya dan tradisi karena silau oleh kilau logam bernilai materi tinggi, tetapi sangat miskin dari nilai kemanusiaan.

Di tempat lain juga sama. Penduduk asli harus menjadi korban pertama untuk menebus kekayaan alam yang dicari entah untuk siapa. Dari pembangunan bendungan, penyedotan gas alam, hingga penggalian mineral logam, penduduk harus terpaksa mengalah.

Tidak heran, di kalangan penduduk kawasan selatan beredar perasaan sarkastis. Lebih baik tanah papa hampa daripada kaya raya tetapi membawa sengsara.

Namun, entahlah jika dalam mengelola sumber daya alam itu, pemerintah ataupun perusahan investor melakukan perubahan cara, sikap, dan gaya, atau lebih mengetengahkan aspek-aspek manusia dan budaya daripada nafsu menguasai dan melindungi modal serta keuntungan. Jika disurvei, akan terbukti nanti, penduduk kawasan selatan Jabar tidak mau daerahnya menjadi seperti PT Freeport di Papua sana.

USEP ROMLI HM Sastrawan-Budayawan, Tinggal di Pedesaan Cibiuk, Garut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s