KAMPUNG KASEPUHAN = SAUJANA BUDAYA?

Posted: February 15, 2010 in budaya, Knowledge
Tags: , , , , , , , , , , ,

Dalam bahasa Inggris, Saujana Budaya dikenal dengan Cultural Landscape. Banyak orang salah mengartikan Cultural Landscape dengan pertamanan atau di Indonesia lebih populer dengan sebutan Lanskap.

Menurut konvensi UNESCO, terdapat tiga tipe Saujana Budaya:
the clearly defined landscape designed and created intentionally by man. This embraces garden and parkland landscapes constructed for aesthetic reasons which are often (but not always) associated with religious or other monumental buildings and ensembles.
The second category is the organically evolved landscape. This results from an initial social, economic, administrative, and/or religious imperative and has developed its present form by association with and in response to its natural environment. Such landscapes reflect that process of evolution in their form and component features.

They fall into two sub-categories:

a relict (or fossil) landscape is one in which an evolutionary process came to an end at some time in the past, either abruptly or over a period. Its significant distinguishing features are, however, still visible in material form.
continuing landscape is one which retains an active social role in contemporary society closely associated with the traditional way of life, and in which the evolutionary process is still in progress. At the same time it exhibits significant material evidence of its evolution over time.
The final category is the associative cultural landscape. The inclusion of such landscapes on the World Heritage List is justifiable by virtue of the powerful religious, artistic or cultural associations of the natural element rather than material cultural evidence, which may be insignificant or even absent.

Tahun 2008, Indonesia mengajukan Bali sebagai Saujana Budaya internasional. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak UNESCO dan disarankan untuk mencari situs baru. Tampaknya Bali diusulkan dalam kategori kedua di dua sub kategori, tidak terfokus pada satu sub kategori.

Selama masa studi, saya mengunjungi tiga saujana budaya dan satu mantan saujana budaya di Eropa. Woerlitz Garten di Jerman, Costiera Amalfitana dan Vallo di Diano di Italia adalah tiga saujana budaya yang diakui UNESCO. Sementara satu mantan saujana budaya adalah kawasan historis kota Dresden di Jerman yang pada Juli 2009 statusnya dicabut oleh UNESCO.

Woerlitz Garten adalah kawasan taman Inggris yang dibangun pada masa kekaisaran Prusia di Jerman Tengah.

Costiera Amalfitana diajukan sebagai saujana budaya berkelanjutan dengan fokus pada pusat kota di kawasan pantai dan perkebunan lemon sebagai kelanjutan praktik tradisi agrikultur (kategori dua, sub kategori continuing landscape). Masalah muncul setelah kawasan ini dikenal dan menjadi pusat kegiatan wisata. Masyarakat setempat berubah orientasi dari perkebunan lemon menjadi pedagang, membuka restoran atau membuka penginapan bagi pengunjung. Sementara penduduk asli yang masih berkebun posisinya terdesak dan harus menyingkir sedikit ke kawasan koa tetangga, Ravello.

Vallo di Diano merupakan peninggalan arkeologi kota yunani kuno yang berada di Italia Selatan. Kawasan arkeologi ini, bersama jejak arkeologi yang ditemukan dalam hutan nasional di kawasan tersebut diajukan sebagai saujana budaya dalam kategori kedua, peninggalan atau reruntuhan atau sisa-sisa sejarah. Kawasan ini juga diajukan dalam kategori kedua sub kategori relict landscape.

Kota Dresden di Jerman, merupakan satu dari sedikit kota di Jerman yang masih terjaga kualitas kota tuanya. Berada di pinggir sungai, pusat kota tua ini diajukan sebagai saujana budaya yang berkembang (developing landscape). Akan tetapi, pada Juli 2009, UNESCO mencabut statusnya dari daftar saujana budaya dunia karena pemerintah kota setempat memutuskan untuk membangun jembatan baru dengan bentuk modern. Padahal jembatan tersebut tidak jelek, tapi rupanya perubahan itu tidak bisa diterima UNESCO.

Kembali ke Indonesia, di Jawa Barat terdapat beberapa kampung Kasepuhan yang sampai hari menjaga tradisi dan nilai-nilai filosofi Sunda dengan baik. Di Kampung Kasepuhan ini bisa ditelusuri bentuk perkampungan Sunda pada masa abad pertengahan. Melalui perkampungan ini pula bisa dilihat harmoni kehidupan antara manusia dengan alam lewat nilai-nilai tradisi Sunda yang diterapkan. Konsep pembagian lahan melalui leuweung-leuwungnya (leuwung titipan, leuweung tutupan, leuweung karamat), area pertanian dan area permukiman. Nilai harmoni budaya Sunda dengan alam juga bisa dilihat melalui 10 Pepeling Sunda yang memberi panduan bagaimana memperlakukan kontur alam yang berbeda dan pemanfaatannya.

Dari studi-studi tersebut, saya berkesimpulan bahwa kampung Kasepuhan mempunyai nilai dan kekuatan untuk diajukan sebagai saujana budaya kategori kedua, continuing landscape. Tentu saja ada permasalahan yang bisa menghambat nominasi kampung Kasepuhan sebagai saujana budaya, tapi hal itu tentu bisa dicarikan solusinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s