Inilah kenyataan alam. Bahwa dataran tinggi Bandung, jutaan tahun lalu merupakan danau purba yang membentang luas. Penduduk kini mengatakan dataran Bandung sebagai Situ Hiang (danau yang hilang). Situ Hiang itu terbentuk akibat aliran sungai Citarum Purba yang tersumbat oleh muntahan lahar letusan Gunung Tangkubanparahu. Airnya lalu menyusut secara bertahap dan menjadi dataran seperti sekarang. Fakta itu diungkap almarhum Ir Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) dalam buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”.

Situ Hiang yang menyusut airnya kemudian menyisakan lebih dari 12 alur sungai yang mengalir dari kaki gunung sekeliling Bandung, lalu bermuara di Kali Citarum. Juga terbentuk pula sejumlah situ atau danau, dalam berbagai bentuk dan ukuran di wilayah Tatar Bandung ini. Selain itu, Danau Bandung Purba mewariskan pula berpuluh-puluh “ranca” atau genangan rawa yang kini telah berubah menjadi kampung dan desa. Kini bisa ditemukan nama-nama seperti Rancaekek, Rancabali, Rancagoong, Rancamaung, Rancakasumba dan lain-lainnya.

Menurut catatan Dr Andries de Wilde, seorang tuan tanah di Tatar Bandung, di tahun 1830 orang masih menjumpai beberapa situ atau telaga ukuran besar di sekitar Kota Bandung. Salah satu yang paling besar adalah Situ Ciloloeun, yang terletak di tepi Jl Cigereleng, antara Bandung dan Dayeuhkolot. Dalam salah satu catatannya, Andries de Wilde menceritakan bahwa begitu luas Situ Ciloloeun, sehingga ia bersama beberapa pengiringnya memerlukan waktu seharian untuk mengelilingi tepian danau dengan menunggang kuda. Di tengah danau itu terdapat sebuah pulau. Di sekitar Situ Ciloloeun dan pulau di tengahnya, banyak orang menjumpai binatang buas seperti harimau, badak, ular pyton dan ribuan ekor rusa dan banteng. Ke tempat itulah, orang di masa itu pergi berburu.

Danau yang hilang

Di daerah selatan Bandung, sampai akhir abad 19 yang lalu, terdapat sebuah danau lainnya, yakni Situ Gede. Di tempat itu penduduk menangkap ikan dengan cara kuno. Yakni berendam diri di air sambil berpegang pada beberapa batang bambu. Adapun alat penangkap ikan menggunakan adalah ayakan bambu yang besar. Pada masa sebelum perang, sejauh mata memandang, di kiri-kanan jalan Cigereleng dan selatan Tegallega, yang terlihat cuma kolam atau balong ikan yang sangat luas. Kini sebagian besar balong tersebut telah menjadi daerah pemukiman penduduk dan kawasan industri. Bahkan Pasar Ikan di samping PT Inti (Jl Moh Toha sekarang), yang dulu ramai dengan lelang ikannya, kini tak dijumpai lagi kegiatannya.

Sisa Situ Hiang lainnya yang masih dapat disaksikan sampai tahun 1960-an adalah situ-rawa Ciendog yang terbentang luas di kawasan Gedebage/Rancaekek. Situ Rawa Ciendog pada masa lalu merupakan kendala alamiah tatkala pembangunan jalur rel kereta api Bandung – Cicalengka. Air situ tersebut sering meluap menggenagi rel kereta api, sehingga mengganggu arus lalu lintas dan angkutan umum. Situ Ciendog merupakan tempat memancing dan ngecrik (menjala) ikan. Sayang, aroma ikannya berbau tanah atau lumpur rawa.

Pada masa sebelum perang, Bandung banyak memiliki berbagai macam sumber dan mata air, dalam bentuk situ, balong ikan, pemandingan, taman ikan, embung (reservoir air kecil) dan talaga yang sebagian besar tak dikenali lagi namanya. Antara lain Situ Garunggang atau Empang Cipaganti, Lebak Gede, Cisitu, Situ Karas di Karasak, Situ Gunting dan Situsaeur (kolam yang ditimbun). Kemudian tiga kolam pemandian dengan mata air alamiah, seperti kolam renang Cihampelas, Karangsetra dan Cimindi.

Menurut foto udara, ditahun 1920, lapang Gasibu di depan Gedung Sate merupakan danau yagn cukup luas. Kemudian kolam atau situ kecil kita jumpai pula di taman Ganesha, Taman Maluku, Taman Lalu Lintas dan Taman Pramuka. Kolam teratai di taman-taman Bandung, merupakan “embung”, muara sungai-sungai kecil seperti kali Cikapundung, Cikapayang dan Cikapundung Kolot. Sejak tahun 1906, air Situ Pakar di Dago Atas mulai dimanfaatkan sebagai sumber air bersih sistem water leiding di kota Bandung.

Adapun kerugian dan rasa kehilangan yang paling besar yang dirasakan warga Bandung adalah lenyapnya “monumen alamiah” Situ Aksan. Itulah sisa terakhir Danau Bandung Purba atau Situ Hiang yang tidak terpisahkan dari legenda (cerita rakyat) Sangkuriang. Pada masa lalu, Situ Aksan yang terletak di Bandung Barat, merupakan tempat rekreasi warga kota. Tempat pemandian dan main sampan, sambil mendengarkan orkes keroncong.

Di Hari Minggu atau Hari Besar selalu dipertunjukkan kesenian, seperti kendang pencak, ketuk tilus, lais, ngadu domba atau ngadu bagong dengan anjing, kongkurs hayam pelung dan sandiwara Janaka Sunda. Bahkan pada perayaan “ceng Beng” warga keturunan sering mengadakan pesta air yang diramaikan oleh pertunjukkan Sandiwara Cina tau Wayang Patehi. Ramai sekali suasananya kala itu. Namun sayang, Situ Aksan yang dulu dikenal sebagai westerche Park kini telah hilang lenyap, tergusur oleh kompleks perumahan real estat. Dengan musnahnya Situ Aksan, maka pupus pula sekelumit kenangan nostalgia indah Bandung Tempo Doeloe. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s