Wacana yang mengemuka tentang penciptaan Sunda semula diangkat Gani A Jaelani (Kompas, 24/2), yaitu bahwa Sunda dicipta Belanda dalam wujud identitas kebahasaan. Adapun Henry H Loupias lewat tanggapannya “Sunda Bukan Dicipta Belanda” (Kompas, 16/3) malah membawa wacana kreasi Sunda ini dalam ranah yang melebar dan kurang bernas.

Adapun Atep Kurnia menafsir Sunda (Kompas, 24/3) tidak lebih dari kesinisannya pada bagaimana Barat (Belanda) mencitrakan Timur (Sunda). Ketiganya masih bermuara pada ruas masalah “Sunda dicipta”.

Jelas, untuk mempertegas Sunda, dalam karya monumentalnya Nusa Jawa: Silang Budaya; Batas-batas Pembaratan, Denys Lombard mesti terlebih dahulu mengonsepsikan Jawa (secara geografis dan kultural). Pasalnya, dalam satu kesatuan geografis, hidup dua budaya besar, Jawa dan Sunda (selain Pesisir).

Hakikatnya, secara kultur historis keduanya memiliki interaksi yang kuat. Jawa banyak memengaruhi unsur-unsur kesundaan sehingga Jawa selalu menjadi bayang-bayang Sunda. Pascajatuhnya dominasi politik Mataram (1677) dan Priangan kemudian diserahkan kepada VOC (1705), mainstream mulai jelas mengarah pada pemisahan budaya: Jawa dan Sunda.

Rekayasa kolonial mencipta identitas Sunda konon disebabkan kekhawatiran mereka pada kekuatan Islam yang dapat menyatukan kekuatan di Jawa. Lewat para pakar sejarah, budaya, dan bahasa, pemerintah mengembangkan proyek Javanologi dan menyusul kemudian Sundanologi.

Syak wasangka Sunda terhadap Jawa terlahir dari embrio “pengetahuan sebagai kekuatan” ala kolonial. Itulah strategi yang mungkin ditanam di tengah rendahnya budaya tulis orang pribumi. Andaikata CM Pleyte dan NJ Krom tidak menginventaris laporan Dinas Kepurbakalaan (Oudheidkundigen Dienst) masa Hindu di Tatar Sunda, mungkin Sunda yang arkais, seperti disinggung Atep, sekarang ini jalannya akan menjadi lain sebagai sebuah pengetahuan. Pleyte dan Krom adalah pionir yang tentu saja mendahului para sejarawan dan filolog sekarang ini dalam penelitian naskah-naskah Sunda kuno. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang sejarah Sunda kuno mula-mula dikonstruksi mereka.

Akan tetapi, tetap saja dalam pengetahuan yang diproduksi lewat susunan naskah tradisional (kidung dan carita) itu, misalnya, unsur mitis kadung menyelimuti identitas kesundaan. Lihat saja geliat chauvinistik terhadap tokoh mitos legendaris, Prabu Siliwangi, yang meruyak sebagai simbol hegemonik urang Sunda. Pun, lihatlah bagaimana Palagan Bubat (1357) seperti konon dikisahkan dalam naskah Pararaton dan Kidung Sundayana begitu diekspos sebagai representasi dendam orang Sunda terhadap Jawa.

Memecah belah

Belakangan malah muncul asumsi bahwa peristiwa itu diragukan pernah terjadi. Demi membangkitkan disharmoni Jawa dan Sunda, tragedi kolosal tersebut dijadikan senjata ampuh kolonial sebagai pemecah belah (devide et impera). Sebuah kesengajaan pengetahuankah?

Sunda secara historis terlahir lampau. Namun, identitasnya baru tercipta dengan cara dilembagakan. Kolonialisme Belanda sebelumnya sudah melembagakan Jawa lewat penyelidikan Javanologi-nya. Ketika Pulau Jawa menjadi konsentris kekuasaan, lahir mooi Indie (Hindia yang molek) yang segalanya identik dengan Jawa.

Lalu menyusul citra mooi Bandung dengan Parijs van Java-nya pada medio kedua abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang dikerangka Belanda dalam bingkah alam Priangan yang eksotik, budaya orang Sunda, hingga bahasanya. Nah, Sunda dilembagakan (bukan dicipta)-salah satunya-ketika bahasa Sunda secara leksikal mulai dikodifikasi sebagai kamus dan bahasa ajar di lembaga sekolah.

“Sunda dicipta Belanda” lewat media bahasa, seperti ditafsir Gani boleh jadi merupakan kepentingan dan rekayasa kolonial. Akan tetapi, Arnold J Toynbee mengatakan bahwa penciptaan bahasa merupakan hal yang jauh lebih belakangan dibandingkan proses sosialitasnya. Kata-kata adalah produk dari kecakapan manusia. Tidak ada komunitas manusia yang tidak mempunyai kata-kata.

Toynbee benar. Buktinya, dalam Summa Oriental (1513-1515), Tome Pires memberi kesaksian bahwa bahasa Sunda jelas sekali berbeda dengan bahasa Jawa meski hidup di pulau yang sama. Kesaksian jurubasa darmamurcaya (ahli bahasa) masa Kerajaan Sunda menyibak bahwa bahasa Sunda sekitar abad ke-16 dikelilingi oleh ragam bahasa asing (carek paranusa) dari dalam dan luar negeri.

Ketika Priangan berada di bawah kekuasaan Mataram (abad ke-17), bahasa Jawa sebagai bahasa resmi turut memengaruhi perkembangan bahasa Sunda. Baru pada paruh kedua abad ke-19, pemerintah kolonial lewat para figur Belanda memulai era pelembagaan identitas Sunda dengan bahasa. Dalam rangkaian proses sosialnya itu, bahasa Sunda mengalami depurifikasi yang puncaknya dioperasi lewat kekuasaan kolonial.

Dicipta ruang dan waktu

Lalu, siapa diuntungkan dari Sunda hasil operasi kuasa Belanda ini? Figur KF Holle (1829-1896) boleh dijadikan contoh. Holle dikenal sebagai sosok Belanda yang nyunda. Dia adalah sastrawan Sunda dan pemaju bahasa Sunda.
Holle akrab di kalangan menak Priangan pada paruh kedua abad ke-19. Begitu erat dengan budaya Sunda, hidupnya sudah seperti orang Sunda. Sebagai ambtenaar, Holle juga ditugaskan pemerintah menyusun buku-buku pelajaran berbahasa Sunda.

Di sini, hidup Holle segaris dengan si ahli bahasa Nusantara, Herman van der Tuuk (1824-1894) yang pernah berkomentar bahwa semua yang telah dikerjakan untuk bahasa-bahasa Nusantara sama sekali tidak berharga dan tidak akan ada perubahan selama orang tidak mempelajarinya atas kepentingan bahasa-bahasa itu sendiri. Orang tidak akan berhasil di segala bidang selama melakukan pekerjaan itu tanpa cinta.

Apa untungnya bagi Holle dan Tuuk melekatkan diri dengan budaya pribumi. Selain itu, apa untungnya juga Sunda dimajukan oleh figur yang notabene Belanda? Ternyata ada yang lebih penting dari sekadar kepentingan kolonial, yaitu kepentingan bahasa itu sendiri untuk berubah. Harus pula diakui bahwa Sunda di tangan Holle bukan lagi bahasa milik orang Sunda. Bangsa atau etnis mana pun bisa menjadi “Sunda”, mungkin malah melebihi orang Sunda sekalipun. Di situlah fungsi identitas bermain yang kemudian menunjukkan kepentingan bahasa itu sendiri, bukan semata kepentingan kolonial terhadap pribumi.

Maka, dalam sejarah bahasa mana pun, sebuah bahasa tentu mengalami interaksi dengan pengaruh luar. Tidak ada bahasa yang terjaga benar kemurniannya. Misalnya, dalam budaya Indis, merespons Henry, bahasa Sunda (selain Jawa dan Betawi) juga berakulturasi dengan bahasa Belanda, yang kemudian menghasilkan bahasa petjuk (komposisi bahasa Sunda dan Belanda).

Bagaimanapun Sunda sudah teridentitaskan. Maka, ketika Sunda dipengaruhi, unsur-unsur asing itu terserap. Yang mewujud kemudian adalah Sunda yang telah terakumulasi oleh unsur Jawa, Melayu, dan Belanda. Adapun yang murni Sunda tentu sulit diraba. Hal itu sudah ditelan oleh ruang dan waktu.

Roh Sunda yang murni dicipta dalam ruang dan waktu. Pada satu masa, Sunda menjadi pranata yang melahirkan identitas, seperti juga halnya Jawa, Batak, dan Bali. Jadi, kata dicipta menjadi tidak lebih dari-menyinggung Lyotard-permainan bahasa dan diskursus. Kata dicipta, bukan dicipta, dan tidak dicipta adalah abstrak. Semua ternyata tengah berkelindan pada pranata.

Ditulis oleh FADLY RAHMAN
Staf Pengajar Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran,
Bermukim di Jatinangor, Sumedang
Comments
  1. Mang Udin says:

    “Belakangan malah muncul asumsi bahwa peristiwa itu diragukan pernah terjadi. Demi membangkitkan disharmoni Jawa dan Sunda, tragedi kolosal tersebut dijadikan senjata ampuh kolonial sebagai pemecah belah (devide et impera). Sebuah kesengajaan pengetahuankah?”

    Kalau paragraf di atas ‘asumsi’, berarti Naskah Carita Parahyangan juga palsu?? Karena dalam CP jelas-jelas disebutkan gugurnya raja Sunda di tanah Jawa walaupun tidak disebutkan nama tokohnya.. Berarti juga naskah2 lainnya yang senada termasuk Kidung Sundayana,dll juga manipulatif?? Kok bisa ya..? Memang naskah tersebut manipulatif, atau kita yang tidak mau menerima ‘cacat’ karuhun kita???

  2. satya says:

    saya melihatnya tetap tulisan sdr fadly hanya sebatas wacana dari wacana yg ada, sekalipun profesor, tidak ada secara eksplisit berani mengatakan bahwa sejarah sunda itu pasti tapi tanda2nya ada, sejarah yang ada terlalu dibelenggu oleh kepentingan2, kenapa tidak di balik metodenya bahwa justru ada dan banyak fakta yang disembunyikan tentang sejarah sunda demi namanya negara bukan demi ilmu pengetahuan, informasi yg abu2 lebih digunakan sebagai alat kepentingan itu bahwa….turunan siliwangi dll, siapa yg berani 100% meyakinkan itu hanya karena memang ada peninggalan batutulis….saran saya gali sejarah sesuai dengan metode yang diyakini bukan ditunggangi oleh kepentingan, masyarakat sunda ada dan telah menjadi dilematis saat ini karena jakarta yang merupakan bagian peradaban sunda dijadikan ibu kota menyedot bangsa dengan budaya dan kepentingan dari luar, itu suatu fakta bahwa di sekitar masyarakat sunda banyak sekali masyarakat jawa dan bersimbiosis, artinya adalah fakta juga bahwa budaya sunda “dijajah” oleh budaya jawa…wallahualam

  3. KRT.PANDJI YUDHO NAGORO says:

    Bismilah
    Pertama tama kita lihat dari awal kerajaan pada masa candrawarman ( tarumanegara )dia kalah perang dengan Kerajaan Srivijaya di palembang,dan kerajaan tarumanegara habis tuntas tidak tersisa tinggal pangerannya yang brnama tarusbawa yang melarikan diri dan dampak yang berakibat galuh jajahan yang di kuasai tarumanegara pada pemerintahan tarusbawa dan kerajaan kerajaan kecil lainya melepaskan diri.
    sumber dari Prasasti bogor.

    kedua,kerajaan gabungan galuh dan sunda sambawa dengan nama pajajaran dibawah pimpinan linggabuana kalah perang dengan majaphit pun sama habis tak bersisa sampai anak anaknya sang citraresmi segenap keluarga habis,memang dulu itu kalau perang semua keluarga ikut sebagi penyemangat di palagan atau di manapun.
    sumber dari negarakertgama dan kidung sundayana

    ketiga,entah betul entah tidak katnya ada kerajaan sumedang larang akn tetapi disini pun di serang bala tentara demak yang di senopateni sang fattahilah akirnya juga tunduk karena di brondong kobaran meriam,akirnya pun kalah

    keempat pada pemerintahan Sultan agung prabu hanyokrokusumo pun meluaskan wilayah sampai citarum samapi mengangkat dipati ukur yang khir akirnya mbalelo atau berhianat kepada matram, dan yang akirnya di sambut olih bala tentara panembahan yusuf putra hasanudin banten selelesi sudah riwayat trah bumi sunda.

    kalu kurang jelas saudara saudaraku bisa mengkaji pada prasasti prasasti yang ada
    dan lontar lontar sejarah dari masa ke masa,.

    sebelum dan sesudahnya saya juga manusia biasa banyak salah dah khilaf
    kalau ada salah saya minta maaf yang banyak ya

    terima kasih
    wasalamualaikum wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s