Berbekal sedikit jiwa petualang kita bisa menyelusuri peninggalan Bandung Purba dalam satu hari. Dengan buku panduan bertajuk Geowisata Menjelajahi Bandung Purba-Cihideung, Tagog Apu ,Saguling. Sebuah perjalanan singkat bisa kita lakukan membawa kita kembali kejaman batu jutaan lampau sekaligus mendatangi lokasi-lokasi yang termuat dalam legenda Sangkuriang.

Ternyata buku petunjuk ini merupakan hasil kajian pusat penelitian dan pengembangan Geologi, balitbang energi dan sumber daya mineral yang berada dibawah naungan Depaertemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Secara sederhana, Geowisata bisa dimaknai sebagai usaha memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya Geologi dalam bingkai kegiatan kepariwisataan sehingga dapat dinikmati wisatawan.

Upaya sosialisasi Geowisata memang diperlukan untuk membantu industri pariwisata dengan menawarkan wisata alternatif berupa kekayaan alam kebumian (Geologi) sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar tanpa merusak kelestarian lingkungan.

Seusai membaca buku tersebut penulis sontak terpikat dengan tawaran petualang yang cukup menantang. Lagi pula seluruh lokasi Geowisata bisa ditelusuri dalam sehari yang berarti penghematan dari segi waktu dan biaya.

Yang lebih mengoda beberapa lokasi Geowisata itu dipercaya masyarakat memiliki kaitan langsung dengan legenda sangkuriang. Jadi bisa perjalanan ini memadukan kajian ilmiah Geologi dengan kisah dongeng cinta terlarang.

Setelah mendapatkan peta perjalanan dan menentuka waktu yang tepat penulis pun memulai pertualangan sehari menjelajahi Bandung Purba. Agar lebih praktis perjalanan kali ini menggunakan sepeda motor dengan ditemani seorang sahabat.

Waktu keberangkatan sengaja dilakukan lebih pagi hal ini untuk menghindari kemacetan yang selalu menyergapi kota Bandung setiap akhir pekan ditengah dinginnya udara motor bebek yang kami tumpangi melaju kencang kearah utara setelah melewati terminal ledeng kami berbelok ke kiri menuju jalan sersan bajuri tujuan pertama yang hendak dicapai adalah The Peak sebuah kawasan hunian mewah dikawasan Bandung Utara.

Setiba dilahan parkir sebuah café disana kita bisa melayangkan pandang keselatan untuk menyaksikan panorama Bandung Raya seutuhnya tampaklah jelas Bandung berbeda didalam cekungan lembah yang dikeliling rangkaian bukit dan pergunungan.

Saat termangu melihat Bandung yang disesaki gedung dan pemukiman tiba-tiba kami teringat cerita kuncen Bandung Almarhum Hariyoto Kunto mengenai keberadaan telaga atau danau Bandung yang juga disebut Situ Hiang.

Menurutnya 6000 tahun lalu kawasan bandung adalah sebuah telaga yang terbentuk akibat tersumbatnya aliran sungai Citarum oleh letusan Gunung Tangkupan Perahu Purba lama kelamaan air telaga itu surut kering dan berubah menjadi daratan.

Dilokasi berketinggian 1210m dipermukaan laut ini kita bisa menyaksikan dengan jelas morfologo khas daerah danau bandung yang dulu terendam air sungguh luar bisa tak terbayangkan betapa luas danau raksasa itu.

Setengah berseloroh kami membatin bilakah Bandung kembali ditakdirkan untuk tengelam dan menjadi telaga? Kami tak berani menebak namun sepakat jika tatanan alam dihancurkan manusia bencana alam akan segera menjelma.

Tujuan selanjutnya Curug Cimahi yang terletak dikawasan cihideung yang menghubungkan Bandung, Cimahi dan Lembang. Sepanjang perjalanan terpampang potret alami lereng dan lembah pergunungan yang dihiasi aneka tanaman hiasa di sisi jalanan.

Tatkala melewati kaki Gunung Tangkupan Perahu dan Burangrang, kami terkenang kisah Sangkuriang-Dayang Sumbi yang menjadi salah satu cerita legenda termasyur dari tanah Parahyangan.

Dikisahkan, dengan terpaksa Dayang Sumbi menerima pinangan Sangkuriang, yang tak lain anaknya sendiri. Asal syarat dibuatkan danau beserta perahu untuk berbulan madu dalam tempo satu malam.

Dengan bantuan jin, Sangkuriang menyanggupinya. Ia segera membendung sungai untuk membuat danau serta menebang pohon membuat perahu. Namun berkat pertolongan dan kuasa Tuhan, segala maksud dan usaha Sangkuriang tak pernah terwujud. Sebelum fajar menyingsing Dayang Sumbi memukul mukulkan alu penumbuk padi sehingga ayam jantan berkokok menandakan datangnya pagi. Sangkuriang sungguh kecewa karena pekerjaannya belum selesai.

Merasa semuanya sia-sia, Sangkuriang melampiaskan kemarahannya dengan menendang perahu buatannya sehingga tertelungkup. Kelak, menurut cerita legenda, perahu itu berubah menjadi Gunung Tangkupan Perahu. Sedangkan danau buatannya kemudian dikenal sebagai Danau Bandung. Sisa pohon yang berupa tunggul kayu diberi nama Bukit Tunggul dan Tumpukan ranting pohonnya berubah menjadi Gunung Burangrang.

Setelah menempuh sekitar 20menit perjalanan tibalah dipintu gerbang Curug Cimahi. Untuk mencapai pusat air terjun dan aliran sungainya, kita mesti menuruni ratusan anak tangga yang dikelilingi rimbuman pepohonan sesampainya di dasar lembah yang teduh dan sejuk, kita langsung disambut gemuruh air yang melunjur deras dari puncak tebing. Mata seolah pun tak pernah bosan memandangi air terjun yang berketinggian 97m ini.

Hal lain yang mencuru perhatian adalah keberadaan tebing-tebing yang berdiri kokoh disekitar air terjun. Ternyata, bebagai macam batuan yang menyusun tebing itu berasal dari lelehan lava letusan gunung berapi Sunda dan Tangkupan Perahu Purba.

Setiap akhir pekan, objek wisata ini cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal. Rombongan keluarga biasanya berdatangan untuk ”botram”, sedangkan pasangan muda-mudi lebih suka menikmati suasana yang romantis.

Sebenarnya, kami merasa betah dan ingin berlama-lama ditempat ini. Tapi lokasi Geowisata lainnya telah menunggu. Kami terpaksa beringsrut dan meniti anak tangga yang menanjak. Keringat bercucuran, nafas pun agak tersengal.

Tengah hari segera menjelang. Terik matahari makin terasa menyengat. Kami meluncur meninggalkan Curug Cimahi, menuju Tagog Apu/padalarang yang didominasi perbukitan kapur yang tandus. Memasuki persimpangan pintu tol padalarang, perjalanan agak tersendat oleh kesemrawutan lalulintas yang bagaikan benang kusut yang sulit terurai. Motor kami harus bergerak lincah diantara impitan kendaran lainnya.

Selepas Situ Ciburuy, perjalanan baru benar-benar lancar. Bukit-bukit kapur mulai terlihat jelas. Warung penjualan kerajinan tangan,peuyeum gantung serta galeri batuan marmer berjejeran dipinggir jalan.

Lokasi yang harus kami temukan adalah Gunung Pabeasan. Namun hal ini tidak mudah dilakukan. Keterbatasan informasi menyebabkan kami sulit menemukan jalan masuk yang terselip diantara pabrik-pabrik batu kapur dan marmer. Mungkin karena salah jalan kami tak bisa mencapai kaki bukit apalagi mendakinya. Kami hanya bisa memotretnya dari kejauhan. Bukit kapur yang berdiri megah itu menyimpan misteri dan sejarah panjang Geologis.

Dalam sebuah bukunya, Hariyoto Kunto, pernah mengutip temuan Dr.Hrp Koesoemadinata yang memaparkan pada jaman miosen, sekitar 15 sampai 20juta tahun lalu, wilayah Bandung bahkan pulau jawa berada dibawah permukaan laut.

Masih menurut Koesoemadinata, hal ini dibuktikan dengan temuan fosil diperbukitan batu kapur sebelah barat padalarang, berupa terumbuk binatang koral, binatang bersel satu (foraminifera), dan ganggang laut.

Boleh saja anda berkerut kening dan tak mempercayainya. Namun secara ilmiah hal itu telah dibuktikan penelitian para pakar ilmu kebumian yang berusaha mengetahui sejarah pembentukan bumi lewat kesaksian batu-batu.

Kawasan bukit kapur di Tagog Apu memang tak subur, namun tetap memberikan berkat tersendiri. Batuan Gamping yang termasuk formasi Raja Mandala ini dimanfaatka sebagai bahan tambang oleh industri dan masyarakat.

Berdasarkan sejarah kejadiannya, kawasan ini terbagi dalam reef creast, Back reef, dan front reef. Di daerah reef creaf biasanya batuannya padat dan kerangka koralnya padat sehingga bagi industri marmer yang membuat tegel lantai.

Sedangkan daerah front reef ataupun back reef umumnya mempunyai batuan berlapis dan retak-retak. Kondisi ini disukai penambang batu tradisional karena relatif lebih mudah dihancurkan sebagai bahan kapur tohor. Setelah terkumpul dalam jumlah banyak kapur tohor itu kemudian dibakar dalam tungku raksasa. Setelah berubah menjadi pasir tohor barulah bisa diolah sebagai bahan dasar cat, pembersih air, obat, mi, pupuk tanaman, dan lain-lain.

Setelah puas mengintip aktivitas pabrik-pabrik batu kapur dan para menambang yang perkasa, kami pun meneruskan perjalanan. Selama melewati kawasan perbukitan ini kita menjumpai kekhasan daerah pertambangan. Kekhasan yang dimaksud adalah truk-truk tua yang membawa batu-batu sebesar gajah dari perbukitan menuju pabrik. Truk-truk yang merayap perlahan itu kerap membikin cemas kendaraan dibelakangnya yang takut kejatuhan batu.

Saking asyiknya berkendaraan dijalanan yang penuh tikungan lokasi Geowisata selanjutnya yaitu Gua Pawon terlewati cukup jauh. Dengan terpaksa kami harus memutar haluan kembali.

Namun gua pawon cukup santer terdengar belakangan ini. Para pakar sejarah, antropolog, geologi, sosiologi, dan lain-lain bekerjasama untuk membiarkan dan meneliti keberadan gua yang diperkirakan berumur jutaan tahun itu.

Maklum,digua pawon ini ditemuka beberapa artefak, tulang binatang, cangkang siput, pecahan buah kenari, pecahan keramik, dan lain-lain berdasarkan bukti-bukti itu gua ini kemungkinan pernah menjadi tempat hunian manusia purba.
Dimata orang awam seperti kami, Gua Pawon memiliki karakteristik yang unik. Gua yang terletak lereng bukit ini memiliki pintu masuk yang besar. Didalamnya terdapat beberapa ruang bertingkat yang cukup lapang dan lembab.
Sepengetahuan kami, dahulu gua ini sering dipergunakan sebagai tempat
persinggahan pencinta alam yang sedang berpetualang. Terkadang gua ini dijadikan ajang latihan naik atau turun tebing dengan bantuan tali. Yang cukup mengganggu ialah bau tumpukan kotoran ribuan kelelawar yang menjadikan gua pawon sebagai sarangnya. Namun masyarakat sekitarnya sering memanfaatkan kototan itu sebagai pupuk tanaman.
Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati tiupan angin yang sepoi-sepoi, kami segera meneruskan perjalanan. Tak terasa matahari telah condong kearah barat gumpalan awan menghadirkan mendung diangkasa.
Motor kami pacu dengan cukup kencang. Tinggal 2 lokasi Geowisata yang belum kami kunjungi, yaitu Sanghiang Tikoro dan Bandung Saguling. Di dalam hati kami terus berdoa agar Tuhan menunda turunnya hujan.
Setelah menemukan tulisan PLTA Saguling yang terpampang dipertigaan Raja Mandala, kami berbelok kekiri. Jalan yang menuju pusat bendungan telah sepi. Sepanjang perjalanan kami hanya berpapasan dengan beberapa kendaran.
Motor bebek yang kami tumpangi kepayahan melahap tanjakan. Namun kami sedikit terhibur dengan keindahan pemandangan alam yang didominasi hutan, perkebunan, lereng dan lembah perbukitan.
Lega rasanya setelah berhasil mencapai pusat bendungan saguling. Kekaguman menyeruak tatkala melihat kemegahan berbagai bagunan dan fasilitas pembangkit listrik yang kini dikelola PT Indonesia Power ini.
PLTA Saguling yang terletak dihulu sungai Citarum merupakan satu dari 3 PLTA yang berada didaerah aliran sungai Citarum. Dua lainnya adalah Bendungan Cirata dan Bendungan Jatiluhur.
PLTA yang berjarak sekitar 30km sebelah Barat Bandung ini atau 100km dari arah tenggara jakarta ini mulai dibangun agustus 1981. Luas areal waduknya yang mencapai 6176H telah menengelamkan 31 desa di kabupaten Bandung.
Namun pengorbanan masyarakat yang terpaksa berimigrasi bedol desa tidaklah sia-sia.setelah diresmikan 24juli 1986 oleh Presiden Soeharto, PLTA Saguling mampu membangkitkan daya listrik 700MW dan energi listrik rata-rata 2156juta Kwh/tahun.
Sayangnya,PLTA Saguling sepi kunjungan wisata. Padahal diakhir tahun 80an awal 90an, kawasan ini masih dikenal sebagai objek wisata cukup yang diminat wisatawan, terutama rombangan keluarga.
Sampai saat ini, Penulis masih menyimpan foto masa kecil bersama keluarga dengan latar belakang pintu air Bendungan Saguling yang mengalir deras seperti air terjun. Namun kini hal itu sulit terwujud karena minimnya debit air.
Sambil menghabiskan waktu, kami sempat berkeliling melihat fasilitas yang dimiliki PLTA Saguling, diantaranya waduk dan pintu air, tangki pendatar, pipa raksasa, turbin generator dan transformator utama.
Mendekati petang kami mendatangi lokasi Geowisata terakhir yaitu Sanghiang Tikoro yang letaknya berdekatan dengan Saguling. Lokasinya memang tersembunyi sehingga kerap kali luput dari perhatian wisatawan.
Penulis sempat kesulitan menemukan Sanghiang Tikoro. Setelah bertanya pada petugas satpam dikantor pusat listrik tenaga air Saguling, barulah kami menemukan lokasinya yang berada dibelakang kantor tersebut.
Nama Sanghiang Tikoro sering dihubungkan dengan legenda Sangkuriang,khususnya berkaitan dengan danau bandung. Istilah Sanghiang berarti Dewa, sedangkan tikoro adalah tengorokan, sehingga keseluruhan berarti Tengorokan Dewa.
Dalam legenda diceritakan suatu saat jikalau lubang Sanghiang Tikoro tersumbat oleh sebatang lidi saja,kawasan Bandung Raya akan kembali tergenan air seperti dalam legenda Sangkuriang.
Sebenarnya Sanghiang Tikoro adalah sebuah gua berbahan dasar yang bagian bawahnya dilalaui aliran air Sungai Citarum yang deras.panjang gua bawah tanah itu 162m dengan kedalaman sekitar1,5 dimusim kemarau.
Tak jauh dari Sanghiang Tikoro kearah hilir aliran sungai Citarum,terdapat lokasi yang sering digunakan olahraga arung jeram. Lokasi ini sangat cocok sebagai ajang latihan bagi pemula karena arus air dan jeramnya tidak terlalu berbahaya.
Comments
  1. yoan says:

    teh ros, kalo boleh tau, buku Geowisata Menjelajahi Bandung purba bisa didapet dimana ya?
    tolong dibales, kalo bisa ke email saya..
    clefril@yahoo.com
    makasih^_^

  2. uton66 says:

    boleh juga tuh mau dong ,beli dimana nya..?

  3. adul says:

    nuhun infona….
    keep clean bandung…

  4. centongriang says:

    Wah sangat menarik artikelnya, jadi “ngalamun” gimana gitu Bandung jaman baheula….
    hanya sayang eung…..tidak disertai foto – foto pendukungnya…

  5. mantap says:

    jadi hoyong ameng ka cihideung😀

  6. handy says:

    wow ceritanya bagus,terimakasih.ini menjawab semua rasa penasarann saya terhadap tempat2 bersejarah di bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s