Sasak Cirahong

Posted: September 10, 2009 in cerita, Knowledge, sejarah
Tags: , , , , , , ,

IKATAN batin masyarakat terhadap transportasi kereta api berjalan sudah satu abad lebih sehingga wajar kalau kehadirannya dapat memberi dampak terhadap perkembangan tatanan kehidupan sampai sekarang. Baik dengan gaya bangunan stasiun dan kantor, juga jembatan yang dibuat cukup banyak ragam, disesuaikan dengan keadaan alam atau lingkungan yang dilaluinya. Ini memberikan manfaat yang sangat besar, baik itu menyangkut pola konstruksi, ilmu pengetahuan, ataupun estetika.

Dalam hal ini saya kemukakan tentang sasak Cirahong yang berada di batas dan menghubungkan dua wilayah kabupaten sekaligus, antara Ciamis dan Tasikmalaya. Ada beberapa hal istimewa yang dikandung sasak Cirahong ini.
Tadinya, menurut keterangan, rencana pembangunan jalur kereta api Bandung-Tasikmalaya-Yogyakarta tidak lewat Ciamis, tetapi oleh Adipati Ciamis waktu itu jalur kereta api diusulkan masuk ke Ciamis kota. Akhirnya Pemerintahan Belanda meluluskan permintaan ini dan melewatkan jalur keretanya ke Ciamis kota walaupun untuk itu mereka harus nombok dana pembangunan yang cukup besar.

Dana tambahan ini selain untuk membangun stasiun dan beberapa pemberhentian (halte), juga untuk membangun sebuah jembatan panjang membentang berkonstruksi baja antara Ciamis dan Tasikmalaya. Jembatan, yang dalam bahasa Sunda disebut sasak, itulah yang namanya Sasak Cirahong, yang punya sejarah panjang.
Dari sekian jumlah sasak kereta api, masing-masing memiliki ciri khas dan spesifikasi tersendiri, baik yang berkaitan dengan panjangnya, ketinggiannya, maupun bentuk konstruksinya. Salah satunya adalah jembatan di atas jalan yang dalam bahasa Belanda disebut viaduct, yang istilahnya sangat kental dikenal dalam tatanan sosial masyarakat kita.
Di Jawa dan Sumatera, viaduct bukanlah suatu bangunan yang umum, tetapi dari segi pengaruh sosial, misalnya di Bandung dan Banjar, Jawa Barat, kini istilah tersebut sudah menjadi identifikasi kawasan. Viaduct di Bandung merupakan kawasan yang diidentifikasi masyarakat sebagai sebuah jembatan kereta api yang di bawahnya ada jalan raya dan Sungai Cikapundung. Sementara di Banjar, viaduct disebut untuk jembatan jalan raya yang melintang di atas jalan kereta api.
Cirahong, sang jembatan, memiliki sebuah cerita panjang yang pada zaman Jepang diselamatkan masyarakat dari upaya pengeboman dan bumi hangus pada detik-detik menjelang kemerdekaan. Pada sisi lain, sejak Cirahong dibangun pada zaman Belanda, masyarakat sekitarnya belum pernah merasakan pembangunan fasilitas yang sama yang dilakukan pemerintah hingga saat ini.
Artinya, pemerintah kita saat ini belum mampu membangun jembatan sebanding dengan Cirahong, baik itu jembatan kereta api maupun jembatan jalan raya. Padahal, para perencana dan pembangun jembatan Cirahong mempunyai visi jauh ke depan sehingga jembatan itu dibangun dengan kekuatan yang dapat diandalkan, sejak awal abad 20, tahun 1900-an, hingga saat ini di awal abad 21, tahun 2003.
Kekuatan dan kekokohan rangkaian konstruksi baja Cirahong sarat dengan pemikiran teknis yang mampu mengantar kita, sebagai masyarakat pengelola dan pengguna, ke rentang waktu yang panjang. Cirahong bahkan dapat dilewati kereta api generasi pertama berupa kereta uap dan gerbong penumpang dari kayu, hingga saat ini kereta disel dengan gerbong-gerbong baja yang pasti jauh lebih berat.
Hal sama juga terjadi di jembatan-jembatan kereta api antara Padalarang dan Purwakarta, misalnya jembatan Cisomang yang merupakan jembatan sepanjang 230 meter dan tertinggi diukur dari dasar sungai di bawahnya yang hampir 100 meter. Jembatan ini segera memiliki kembaran dalam konstruksi yang berbeda, tetapi diharapkan lebih kokoh karena pemerintah menganggap jembatan berusia lebih 100 tahun itu (buatan tahun 1894) sudah terlalu uzur untuk terus digunakan.
Atau jembatan Cikubang yang merupakan jembatan terpanjang milik PT KA, panjang konstruksinya 300 meter yang kokoh di atas sungai kecil 80 meter di bawahnya. Jembatan Cikubang terlihat jelas dari jalan raya antara Plered dan Padalarang, yang bahkan sering membuat wisatawan berhenti sejenak untuk menyaksikan kereta menitinya.
Kita belum mampu membangun jembatan dengan kekokohan sama dengan yang dibangun Belanda pada dua abad berbeda yang lalu. Tetapi, merawat dan memanfaatkannya menjadi tugas kita yang sebenarnya jauh lebih ringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s