Festival Buku Asia Afrika

Posted: August 22, 2009 in Event
Tags: , , , , , , , ,

n123850901103_3587FESTIVAL BUKU ASIA AFRIKA
“Kemerdekaan dalam Inspirasi”
14-25 Agustus 2009
Museum Konperensi Asia Afrika
Jln. Asia Afrika No.65 Bandung
GRATIS! Terbuka untuk Umum.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Pembukaan
Monolog Pidato Bung Karno:
“Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru” (Wawan Sofwan)
Peresmian ‘Asian African Reading Club’
Peluncuran Buku “Citra Indonesia di Mata Dunia”
Pertunjukan Musik Angklung & Paduan Suara (AWI dan Menara)
Orasi Budaya (Ahda Imran)
Pentas Akustik (Fajrur)

14 -25 Agustus 2009
Bazzar Buku Sejarah, Buku Langka, Buku-buku Asia Afrika

16-25 Agustus 2009
Pemutaran Film Asia Afrika & Film Karl May
Minggu, 16 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Persepolis,
Jam 16.00 – 18.00 : Kandahar,
Jam 18.30 – 20.00 : Live Aid 1985

Selasa, 18 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Earth,
Jam 16.00 – 18.00 : Not One Less,
Jam 18.30 – 20.00 : Karl May: Tragedi & Kejayaan

Kamis, 20 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Laskar Pelangi,
Jam 16.00 – 18.00 : I Not Stupid,
Jam 18.30 – 20.00 : Kara Ben Nemsi

Jumat, 21 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Last King of Scotland,
Jam 16.00 – 18.00 : Cry Freedom,
Jam 18.30 – 20.00 : Karl May: Bury My Heart at the Wounded Knee

Sabtu, 22 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Akira Kurosawa’s Dreams,
Jam 16.00 – 18.00 : Tokyo Story

Minggu, 23 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Karl May: Winnetoon,
Jam 16.00 – 18.00 : November 28

Senin, 24 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : Out of Africa,
Jam 16.00 – 18.00 : African Queen

Selasa, 25 Agustus 2009
Jam 12.30 – 15.00 : To Live,
Jam 16.00 – 18.00 : Ugetsu Monogatari

Bagi pihak sekolah/perorangan yang berminat menonton dalam bentuk rombongan/perorangan harap menghubungi:
Puji: 022-76566937
Kapasitas Ruang Audiovisual 40 orang, berAC, nyaman

Minggu, 23 Agustus 2009
Pukul 10.00 – 12.00 WIB & 12.00 -14.00 WIB
Seminar Orangtua dan Anak “Anak Kemerdekaan”
Pembicara: Yoanna Greissia ST, MM
Topik: Apa yang menjadikan anak sebagai pemenang,
Bagaimana Mengembangkan mentalitas pemenang dalam diri anak,
Pentingnya karakter dalam membentuk mentalitas pemenang,
Bagaimana menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ anak

RSPV (paling lambat 21 Agustus 2009):
Andreas (022-91905007)
Greissia (022-92570444)

Minggu, 23 Agustus 2009
Pukul 15.00 – 17.30 WIB
Kemerdekaan dalam Puisi dan Peluncuran Buku Puisi “Surat ti Bali”Didin Tulus.

Kegiatan ini didukung oleh: Museum Konperensi Asia Afrika, Paguyuban Karl May Indonesia, MyCinema, Dipan Senja, Puslit KP2W Unpad, Menara, Angklung Web Institut (AWI), Pesona Nusantara, Bacabaca Bookmart, LawangBuku, Balepustaka, Forsen, Koran Sindo, VOB (Voice of Bandung)
Media/INFO Centre: 081320977737 (Theo)

Rute Angkot menuju Museum KAA/Gedung Merdeka:
1. Dari Kebon Kalapa: Naik Angkot Kalapa-Sukajadi (Biru) turun di Halte Damri Alun-Alun, jalan kaki 100 m ke arah kanan melewati Sungai Cikapundung.
2. Dari Jalan Kepatihan: Naik Angkot St.Hall-Gede Bage (Hijau Muda), turun di Jalan Naripan perempatan Braga, jalan kaki 100 meter ke arah AACC (Asia Afrika Culture Centre), Sarinah atau Kimia Farma.
3. Dari Arah Dago: Naik Angkot Kalapa – Dago dari Terminal Dago, atau dari BIP (hijau tua), turun di perempatan Jalan Asia Afrika, jalan 100 m melewati Hotel Preanger, Bandung 0 KM, Kantor Pikiran Rakyat dan Kimia Farma.
4. Dari Cicaheum: Naik Angkot Kalapa – Caheum via Aceh (Hijau merah ati), turun di perempatan Jalan Asia Afrika, jalan 100 m melewati Hotel Preanger, Bandung 0 KM, Kantor Pikiran Rakyat dan Kimia Farma.
5. Dari Cicaheum: Naik Bus Damri Cicaheum – Leuwi Panjang turun tepat di depan Gedung Merdeka Jln. Asia Afrika

Situs Resmi: http://www.asianafrican-museum.org
Email: dipansenja@yahoo.com

LAMPIRAN SINOPSIS FILM

Persepolis
Persepolis adalah film animasi karya sutradara Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi. Film yang diangkat dari sebuah novel grafik karya Marjane Satrapi berlatar belakang pergolakan politik di Iran yang berujung Revolusi Islam tahun 1979. Di sana hidup seorang gadis kecil yang sangat cerdas dan pemberani bernama Marjane. Suhu politik yang tak menentu di dalam negerinya, yang dilanjutkan perang dengan negeri jirannya: Irak, membuat kedua orang tuanya khawatir dan mengungsikannya ke Wina, Austria. Ia sempat merasakan kebahagiaan di tempatnya yang baru, walaupun akhirnya ia harus kembali ke Iran karena dilanda kesepian. Mudik ke Iran, ia mendapati aturan baru: perempuan diharuskan memakai jilbab.

Earth
Dari seluruh planet yang ada di ruang angkasa, hanya ada satu planet yang mendukung kehidupan, yaitu Bumi. Berada di jarak yang tepat dari matahari dengan kemiringan tertentu yang membuat iklim dan cuaca yang sempurna serta menghasilkan lanskap pemandangan yang sangat spektakuler. Semua keindahan ini bisa hilang jika kita tidak bersama-sama menjaga kelestarian bumi kita tercinta ini.
Film ini menggambarkan perjalanan sepanjang tahun di bumi melalui beberapa keluarga satwa, yaitu keluarga beruang kutub di daerah Arktik yang membeku, sekawanan gajah Afrika di gurun yang kering, satwa burung di Papua, serta induk dan anak ikan paus bungkuk di lautan Antartika.

Not One Less
Di sebuah desa terpencil di dataran Cina, seorang guru yang mengajar sekolah dasar setempat harus pergi selama sebulan. Pak Kepala Desa hanya menemukan Wei Minzhi, seorang gadis berusia 13 tahun, untuk menggantikan guru tersebut. Wei Minzhi hanya dibekali sebatang kapur setiap harinya dan dijanjikan honor tambahan sebesar 10 Yuan jikalau ia berhasil mempertahankan agar anak didiknya tidak berkurang seorang pun.
Ternyata mempertahankan siswanya untuk tetap bersekolah tidaklah mudah. Kemiskinan menjadi salah satu penghambatnya. Zhang Huike, murid yang paling bandel, harus berhenti bersekolah karena pindah ke kota untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya. Wei Minzhi pun bertekad untuk membawa Zhang Huike kembali ke desa dan bersekolah. Dengan bantuan ke-26 murid lainnya, sang guru cilik mengumpulkan uang untuk ongkos pergi ke kota dengan bekerja memindahkan batu bata. Dan sesampainya di kota, Wei Minzhi tidak pernah menyerah walaupun Zhang Huike sangat sulit ditemukan.
Dihiasi oleh pemandangan yang indah, penonton diajak untuk melihat kehidupan pedesaan yang jarang disorot media. Anak-anak dalam film ini pun berperan dengan memakai nama mereka sendiri, menambah ekspresi keluguan yang sangat orisinil. (nadz)

Tragedi dan Kejayaan
Film ini tentang biografi Karl May yang dilahirkan dalam keadaaan buta dan justru memperkuat daya khayalnya saat mendengarkan dongeng-dongeng dari neneknya, dan daya khayal inilah yang belakangan menjadikan dia pengarang klas dunia. Narasi dokumenter ini diperkuat dengan koleksi etnografis Indian Amerika yang terlengkap di Eropa. Lokasi pembuatan film dilakukan di rumah (di dalam, di halaman dan di sekeliling) kediaman Karl May di Radebeul, dekat Dresden yang dikenal dengan “Villa Shatterhand”, yang belakangan dijadikan Museum Karl May. Judul lain film ini adalah: “Berkunjung Ke Wigwam Old Shatterhand”. Banyak orang Indonesia yang pernah berziarah ke rumah ini, di antaranya: sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Bagi yang pernah membaca buku-buku Karl May terbitan Pradnyaparamita tentu tahu tentang Museum ini, karena di tempat itulah bisa dilihat 3 Senapan yang paling terkenal sedunia. (Senapan Henry, Pembunuh Beruang, dan Senapan Perak milik Winnetou).

Laskar Pelangi
Sebuah adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata, dengan latar belakang Pulau Belitong yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
Film ini berkisah tentang kalangan pinggiran, tentang perjuangan hidup mencapai cita-cita yang mengharukan, dan indahnya persahabatan.
Ibu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) mengabdi tanpa pamrih pada dunia pendidikan. Mereka bahu membahu mengajar di sebuah sekolah sederhana, meskipun jumlah muridnya hanya 10 orang, yang dinamakan Laskar Pelangi

I Not Stupid
I Not Stupid adalah film yang dapat membuat anda tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan. Menggambarkan perjuangan dari 3 (tiga) orang anak dan keluarga mereka untuk mencapai prestasi yang bagus di sekolah mereka, dengan suasana dan lingkungan yang sangat kompetitif, sementara orang tua mereka juga harus menghadapi persaingan yang ketat dan menghadapi ‘ujian’ untuk dapat bertahan hidup di antara masyarakat modern.
Sebuah film Singapura karya sutradara Jack Neo, yang juga bermain di dalam film ini.

Kara Ben Nemsi Effendy
Kara Ben Nemsi (Karl si Anak Jerman) adalah judul seri buku karangan Karl May (1842-1912) yang terdiri dari 6 jilid sepanjang k.l 3000 halaman, dengan periode penulisan antara 1882-1888. Fiksi ini bercerita tentang petualangan seorang sarjana Jerman yang mencoba memotret Dunia Timur pada masa Kekhalifahan Usmaniyah. Cerita aslinya dimulai di Afrika Utara (Tunisia-Aljazair), berlanjut ke Mesir, Arabia (Jeddah-Mekkah), Oman, Irak, Kurdistan, Libanon, Suriah, Turki, Bulgaria, Macedonia, dan berakhir di Albania.
Film ini adalah bagian dari film seri TV, dan yang akan ditayangkan hanya 4 episode, masing-masing 20 menit. Episode 1-2 bercerita tentang petualangan Kara Ben Nemsi dan pembantunya, seorang Arab dari Sahara, bernama Halef Omar (lengkapnya Hadschi Halef Omar bin Hadschi Abul Abbas ibn Hadschi Dawud al Gossarah. Meskipun namanya panjang, semua pembaca Jerman hapal nama ini luar kepala). Adegan dibuka dengan dialog Islam-Kristen, yang disimpulkan dengan: biarlah engkau memeluk agamamu dan aku memeluk agamaku, khas Karl May. Selanjutnya adegan beralih ke suatu pembunuhan di gurun Sahara, dan kemudian penonton diajak menikmati pemandangan Chott Jerid, padang garam berlumpur (lokasi shootingnya di tempat aslinya, Tunisia) di mana kita bisa tenggelam jika salah melangkah.
Episode 3 menceritakan petualangan Kara Ben Nemsi memasuki Mekkah, yang terlarang bagi non muslim; sedang episode 4 tentang perjalanan dan petualangan Kara Ben Nemsi dkk ke Benteng Amadijah, Kurdistan Utara, tempat putra kepala suku Arab Haddedihn ditahan oleh penguasa Turki. Cerita-cerita Karl May memang menceritakan tentang pembelaan terhadap kaum yang tertindas.
Dengan melihat film ini penonton akan bisa mengetahui persepsi sineas Jerman dalam menafsirkan novel Karl May dan Dunia Islam, lengkap dengan keunikan dan ketidaktepatannya.
Film seri TV ini produksi 1973-1975, terdiri dari 26 episode dalam 2 season. Kara Ben Nemsi diperankan oleh Karl Michael Vogler, Hajji Halef Omar oleh Heinz Schubert. Produksi: Elan-Film Gierke & Co dan Zweites Deutsches Fernsehen (ZDF) Jerman.

The Last King of Scotland
Idi Amin, presiden Uganda, periode 25 Januari 1971- 13 April 1979:
Jenderal Idi Amin Dada Oumee, ia menjuluki dirinya sendiri, “The Last King of Scotland”. Karena ia yakin bahwa dirinya sebaiknya mengambil alih kekuasaan dari Ratu Inggris, Elizabeth II, sebagai raja orang Skotlandia. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah ingin jadi Presiden, tentaranyalah yang memintanya. Amin adalah sosok jenderal yang murah senyum dan merakyat, sering bertindak kekanak-kanakan yang membuat orang tertawa. Pada awal kenaikannya sebagai pemimpin Uganda, ia dikenal senang keterbukaan, dan ia diharapkan menjadi pemimpin ideal. Tetapi sejarah juga mencatat ia sekaligus sosok diktaktor yang kejam. Di Afrika kekejaman Idi Amin sebagai diktator hanya dapat disamai oleh Mobutu Seseseko, mantan diktator Kongo yang juga terkenal karena pembantaiannya, dan juga nama-nama diktator pembunuh terkenal lainnya seperti Adolf Hitler dari Jerman, Benito Musollini dari Italia, Joseph Stalin dari Uni Sovyet, dan Nicolai Ceacescu dari Rumania.
Film ini adalah gabungan kisah nyata campur kisah fiksi. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Giles Foden. Berkisah tentang petualangan Nicholas Garrigan (James McAvoy). Tokoh Nicholas Garrigan adalah fiksi, namun sosok dr Garrigan ini disadur dari pengalaman nyata dari Bob Astles, seorang perwira Inggris yang sempat membantu pesaing Idi Amin, Milton Obote, dalam perebutan kekuasaan. Astles sendiri dikenal sebagai ‘The White Rat’ dan Amin memberinya gelar ‘Major Bob’.
Garrigan adalah seorang dokter muda asal Skotlandia. Lulus dari almamaternya, ia dengan secara ‘sembarang’ memilih Uganda sebagai tempat dia mengabdi sebagai seorang dokter. Awal film ini juga bercerita tentang Garrigan yang penuh dedikasi sekaligus seorang flamboyan. Garrigan tiba di Uganda pada 1971. Saat itu adalah masa awal pemerintahan Idi Amin, dimana ketika itu Idi Amin adalah pemimpin yang popular, dan secara tak terduga ada satu kesempatan mempertemukannya dengan Idi Amin (Forest Whitaker).
Persahabatan Garrigan dan Amin bermula dari sebuah insiden kecil. Mobil jip Idi Amin diseruduk seekor banteng dalam kunjungan sang presiden itu ke sebuah dusun kecil di pinggiran Uganda, tempat Garrigan bertugas. Garrigan diminta bantuan untuk memeriksa kondisi Amin. Amin tertarik dengan kecekatan dan keberanian Garrigan, yang kemudian juga memulihkan tangannya yang dikira patah dalam insiden itu. Amin lantas mengundangnya ke istana presiden. Garrigan diminta Amin untuk menjadi dokter pribadinya, ia mengatakan “Jika kamu mau mengabdi pada negara ini, kamu harus menjaga kesehatanku, bapak dari negeri ini.” Diceritakan bahwa Garrigan berkali-kali menyelamatkan nyawa Amin. Faktor kebetulan dan keajaiban terjadi dimana Garrigan selalu menjadi sosok yang menyelamatkan Amin dari percobaan pembunuhan. Maka, kemudian Garrigan tak hanya didaulat menjadi dokter kepresidenan, tetapi juga penasihat terpercaya Amin. Akibat perbobaan pembunuhan kepada Amin membuatnya menjadi paranoid, ia kemudian membuat ‘double’ yaitu sosok yang mirip dengannya lengkap
dengan pakaian Jenderal kemana-mana ia pergi. Supaya si pembunuh bisa salah jika ingin membunuh Amin. Tapi dari sana lantas tergambar, kalau Amin adalah jenderal perang yang rapuh, takut kematian. Ada quote yang menarik dari film ini “Jika kamu takut mati, itu artinya kamu punya kehidupan yang berharga yang harus dipertahankan. ” ini diucapkan Garrigan kepada Amin, dan Amin semakin bersimpati kepdanya.
Namun kejadian demi kejadian membuat Garrigan menjadi mengerti bahwa ia sedang melayani diktaktor brutal yang sedang memimpin negara.
Dalam film ini, diceritakan salah satu anggota badan intelijen Inggris menghasut Garrigan untuk membunuh Amin, karena dirasa Garrigan adalah sosok yang tepat, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan Amin. Faktanya, seperti yang di lansir Radio BBC pada 17 Agustus 2003, sehari setelah kematian Amin di pengasingannya di Saudi Arabia, mantan menteri luar negeri Inggris, David Owen, pada periode 1977-1979, mengakui pernah mengusulkan ide ini. Owen mengatakan “Rezim Amin adalah rezim paling buruk yang pernah ada. Sungguh memalukan bagi kita untuk membiarkannya terus berkuasa.”
Petualangan Garrigan menjadi semakin kompleks karena ia terlibat hubungan asmara dengan Kay (Kerry Washington), salah satu istri Amin. Ketika tersingkap pengkianatan itu, Amin bahkan memutilasi Kay, istrinya. Garrigan memutuskan pergi dari Uganda. Namun, itu mustahil. Amin terus menguasainya dan bakal membunuhnya jika ia coba-coba kabur.
Film ini ditutup dengan kejadian sejarah yaitu pembajakan pesawat Air France oleh militan Arab Palestina dan teroris sayap kiri Jerman pada bulan Juli 1976 di Entebbe, Uganda, yang terkenal itu. Kita bisa melihat disini bahwa penulis novel ini, Giles Foden pandai memadukan antara kejadian nyata dan fiksi. Pada kejadian di airport ini, ide Garrigan yang bermaksud membunuh Amin tercium oleh ajudan Amin. Garrigan kemudian disiksa dan digantung dengan cara tulang rusuknya ditusuk dengan dua buah kait. Adegan ini disajikan dengan cukup mencekam, bagaimana kemudian Garrigan dibantu rekannya dr. Thomas Junju (David Oyelowo) untuk keluar dari Uganda dan menyelinap masuk rombongan orang-orang non-Israel yang disandera.
Peristiwa pembajakan pesawat Air France yang mendarat di Uganda ini melahirkan kesepakatan, bahwa sandera-sandera yang tidak berkewarganegaraan Israel dibebaskan. Sedangkan sandera-sandera berkewarganegaraan Israel dan berkebangsaan Yahudi tetap ditahan pembajak di Bandara Entebbe dibawah patronase serdadu Uganda. Namun pada 3 Juli 1976, yaitu empat hari setelah warga non-Yahudi dibebaskan para pembajak, Sayeret Matkal (pasukan elit operasi khusus negara Israel) dipimpin Kolonel Jonathan Netanyahu (kakak mantan Perdana Menteri/PM Israel, Benjamin Netanyahu) menyerbu Entebbe guna membebaskan warga Israel yang disandera lewat Operasi Entebbe yang legendaris itu. Operasi itu berhasil membebaskan para sandera Israel dan langsung dibawa pulang ke Israel, sementara pembajak yang jumlahnya enam orang tewas dibunuh pasukan komando Israel bersama 45 serdadu Uganda yang melindunginya. Sayeret Matkal sendiri hanya kehilangan Kolonel Netanyahu yang mati ditembak penembak jitu serdadu Uganda. Operasi penyelamatan berlangsung di kegelapan malam saat warga Uganda tertidur lelap, termasuk Presiden Idi Amin. Keesokan harinya, Amin baru dikabari bahwa pasukan Israel telah datang tiba-tiba dan berhasil membebaskan para sandera dan
langsung membawa mereka ke Israel. Amin murka dan menyampaikan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena dianggap Israel telah melanggar kedaulatan Uganda. Indonesia kala itu juga ikut mengutuk aksi pasukan Sayeret Matkal dalam Operasi Entebbe.Tetapi PBB malah membenarkan aksi militer Israel itu, yang dilakukan demi menyelamatkan warganya yang tersandera.

Cry Freedom
Cry Freedom, pada awalnya berkisah mengenai pejuang kemerdekaan Afrika Selatan, Stephen Biko. Sejam berselang film dimulai, Stephen Biko gugur dan kisah pun berkembang, menjadi penceritaan usaha seorang editor kulit putih dari sebuah surat kabar, yang melarikan diri dari kejaran kepolisian Afrika Selatan demi pewartaan kebenaran.
Plot cerita terpusat pada Donald Woods, seorang editor pemberani yang memimpikan untuk mengubah dunia. Woods, yang awalnya melabel Biko sebagai seorang rasis, merubah pendapatnya setelah bertemu langsung dengan sang pemimpin kulit hitam. Walaupun ia memiliki komitmen dengan keluarganya, Woods melawan apartheid dengan gigih demi memperjuangkan pandangan Biko tentang kesetaraan antar populasi yang berlainan ras di Afrika Selatan. Woods terus bertahan melalui pembreidelan dan ancaman penjara maupun mati, demi mempublikasikan kisahnya tentang pembunuhan Biko di penjara.

Bury My Heart at The Wounded Knee
Film tentang kepunahan ras kulit merah/Indian Amerika yang diwakili oleh film: Bury My Heart at The Wounded Knee, yang diilhami oleh buku karangan Dee Brown, dan menceritakan saat-saat terakhir kematian Sitting Bull (dikenal sebagai salah satu pementas dalam kelompok Buffallo Bill dan the Wild West show) serta pembantaian di Wounded Knee. Dalam fiksi, kepunahan ras merah ini diwakili oleh Winnetou Gugur, karya Karl May.
Seorang Indonesianis asal Australia, John D Legge, ketika menulis tentang gerakan bawah tanah dari anak buah Syahir pada masa revolusi mengatakan, bahwa para pejuang ini mengenal makna kemerdekaan (a.l) setelah membaca novel-novel Karl May, bahwa Amerika itu sebetulnya “milik” Indian, dan para kulitputih kakekmoyangnya George Bush itu sebenarnya adalah para “pencuri tanah”. Setidaknya, semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika, terwakili oleh film dan novel-novel yang akan diikut sertakan.

Akira Kurosawa’s Dreams
8 (delapan) buah penggambaran yang sangat indah yang dipadu dalam satu film hasil karya empu perfilman kelas dunia dari Jepang: Akira Kurosawa. Film yang teramat indah ini, yang teramat kaya dengan pesan moral ini, dijuluki para sineas, sebagai film saat di mana Akira Kurosawa sedang ’melukis’ sambil bercerita …

Tokyo Story
Film yang universal secara tematis, dan unsur kemanusiawian, juga gampang dinikmati, Tokyo Story adalah salah satu dari sedikit film yang masuk kategori mahakarya terhebat dalam sinema dunia. Kekuatan dahsyat dari film ini, justru terletak pada kesederhanaannya, yang memungkinkan emosi untuk dibangun secara perlahan dan halus, seperti layaknya pada kehidupan nyata.
Sebagai tanda kejeniusan sang sutradara, Yasujiru Ozu, pada saat film ini mencapai akhir, penonton akan merasa tergerak oleh sesuatu yang lebih mirip sebagai pengalaman pribadi, dibanding khayalan.

Winnetoon
Inilah tontonan sehat dan mendidik untuk seluruh keluarga. Charley, seorang pemuda kulitputih ingin merantau ke Barat. Ia dituntun oleh gurunya, Sam Hawkens. Charley kemudian berkenalan dengan ketua suku Indian yang cinta damai, Winnetou. Namun, ada pula tokoh provokator kulitputih, Santer,yang bekerja sama dengan seorang Indian ambisius, Mattho-Si, yang memperdagangkan senapan curian milik kavaleri dengan emas curian milik Apache. Teknisi film animasi ini konon mendapat bantuan dari Walt Disney Studio. Ini menjamin kwalitas film animasi tersebut.

November 1982
Film garapan Teguh Karya ini memamerkan tradisi Masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Di tengah suasana perang Dipeonegoro Kapitein De Borst (Slamet Raharjo), indo yang sangat ingiin jadi Belanda murni, hendak membuktikan diri sebagai prajurit hebat. Pembuktian itu bisa diperoleh bila dia berhasil menangkap Sentot Prawirodirdjo, otak peperangan Diponegoro.
Kisahnya berlangsung di Desa Sambiroto November 1828. untuk maksud ini, De Borst menggunakan secaga cara dan tak memperdulikan nyawa orang. Di pihak lain, pengikut Sentot menyusun perlawanan dengan sangat licin, hingga bisa memasuki seluruh lapisan pertahanan Belanda dan selalu tahu rencana-rencana Belanda. Puncak ketegangan adalah konflik antara De Borst dengan Kromoludiro (Maruli Sitompul).
Untuk mengetahui persembunyian Sentot, De Borst memaksa Kromoludiro buka mulut, antara lain dengan menayndera istri dan anaknya yang masih bayi.

Out of Africa
Memenangkan Oscar untuk film terbaik tahun 1985, film garapan Sidney Pollack ini menceritakan petualangan Isak Dinesen di tanah Afrika, tepatnya di Nairobi, Kenya, yang masih kaya dengan alam yang sangat indah dan teramat mempesona.
Mengambil setting ketika pecah Perang Dunia ke-1, Isak Dinesen membeli 1000 are tanah pertanian untuk kemudian mengolahnya menjadi tanah pertanian yang teramat subur dan menjanjikan.
Di tengah-tengah perjuangan dan adaptasi dengan lingkungan penduduk asli Afrika, Dinesen menjalin hubungan yang sangat baik dengan teman-temannya dari Eropa yang juga bermukim di tanah jajahan ini. Dari sinilah Dinesen mengalami berbagai tantangan, persahabatan, affair dan perjuangan mencari jati diri hingga akhirnya dia harus mengambil keputusan yang sangat penting untuk kehidupan dia selanjutnya.

African Queen
Satu-satunya film yang mempertemukan dua legenda film Hollywood Katherine Hepburn dan Humphrey Bogart, The African Queen adalah sebuah film petualangan yang klasik sekaligus film romantis, dengan sedikit propaganda di zaman perang.
Hepburn berperan sebagai seorang perawan tua bernyali baja, dan Bogart adalah lelaki jorok kapten sebuah kapal kecil, the African Queen, di kala Perang Dunia pertama sedang melebarkan pengaruhnya sampai ke pedesaan kecil di Afrika yang terjajah. Menyaksikan kedua pasangan janggal ini mencoba selamat dari perjalanan melewati sungai yang berbahaya, melakukan penyerangan yang gagah berani, dan kemudian saling jatuh cinta, membuat The African Queen sebagai sebuah tayangan yang menghibur.

To Live
Fugui yang berasal dari keluarga terpandang terpaksa kehilangan harta dan rumahnya ketika kalah di meja judi. Demi menyambung hidup keluarganya, Fugui berkeliling bersama sebuah rombongan pertunjukan wayang sebagai penutur cerita. Perang yang terjadi antara tentara komunis dan nasionalis sempat memisahkan Fugui dari keluarganya. Setelah perang berakhir, Fugui dapat berkumpul kembali dengan keluarganya, namun perjuangan hidup yang berat belum berakhir. Melewati berbagai pergolakan politik di RRC tahun 40-70an, keluarga kecil Fugui tidak hanya berjuang menyambung hidup, tetapi mereka juga harus berjuang menghadapi kehilangan orang-orang yang paling mereka cintai.
To Live melengkapi daftar film-film legendaris yang mengangkat perjuangan hidup berbagai kelompok masyarakat China dalam menghadapi pergolakan politik antara tahun 40-70an. Bila dalam Farewell My Concubine (Bedah Film GKI MY 27 Nov 2006) yang diangkat adalah situasi RRC dari sudut pandang popular people (entertainers, aktor opera Beijing), dan The Last Emperor (akan diputar pada bedah film berikutnya) mengangkat sudut pandang sang kaisar, maka TO LIVE adalah kisah hidup rakyat jelata dalam menghadapi kemelut politik. Dalam TO LIVE, rakyat jelata digambarkan sebagai pihak yang mau tak mau harus menerima kondisi yang terjadi tanpa mengerti alasan dan tujuannya. Kebesaran hati dan sikap polos mereka menjadikan film ini amat menyentuh hati.
Cerita dalam film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Yu Hua (Chinese Mandarin: Huo Zhe 1993). To Live berhasil memenangkan berbagai penghargaan di kancah perfilman dunia, namun di RRC sendiri film ini dilarang untuk diputar. Zhang Yimou selaku sutradara dilarang untuk menghadiri festival-festival di mana fimnya memenangkan awards dan dihukum tidak boleh membuat film selama 5 tahun. Namun pemerintah China segera mencabut kembali hukuman ini.

Ugetsu Monogatari
Bersetting di Jepang pada saat perang saudara di abad 16, seorang pengrajin tembikar yang gigih ingin melanjutkan usahanya demi keluarga, dirayu oleh seorang putri bangsawan yang misterius. Sementara itu, tetangganya yang memimpikan kejayaan di bidang militer, dinaikkan pangkat menjadi Jenderal, atas jasanya di medan perang.
Di akhir cerita, kedua orang itu sama-sama belajar dari kesalahan mereka dan kembali pulang ke desa untuk menjadi petani. Malangnya, kedua istri mereka mengambil pelajaran yang jauh lebih pahit.

SELAMAT MENONTON DAN MENDAPATKAN INSPIRASI!

Bagi pihak sekolah/perorangan yang berminat menonton dalam bentuk rombongan/perorangan harap menghubungi:
Puji: 022-76566937
Kapasitas Ruang Audiovisual 40 orang
berAC, nyaman

Waktu Pemutaran
No Hari, tanggal I (12.30-15.00) II (16.00 – 18.00) III (18.30 – 20.00)
1 Minggu, 16 August Persepolis Kandahar Live Aid 1985
2 Selasa, 18 August Earth Not One Less Karl May: Tragedi & Kejayaan
3 Kamis, 20 August Laskar Pelangi I Not Stupid Karl May:
Kara Ben Nemsi Effendy
4 Jumat, 21 August Last King of Scotland Cry Freedom Karl May: Bury My Heart at the Wounded Knee
5 Sabtu, 22 August Akira Kurosawa’s Dreams Tokyo Story
6 Minggu, 23 August Karl May: Winnetoon November ’28
7 Senin, 24 August Out of Africa African Queen
8 Selasa, 25 August To Live Ugetsu Monogatari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s