Secuil Kenangan Dalam Roti Kolmbeng

Posted: August 14, 2009 in kuliner
Tags: , , , , , , , , ,

Roti zaman dulu. Begitu pendapat orang saat menjelaskan roti kolmbeng. Tidak salah memang, karena roti yang terbuat dari tepung tapioka ini sudah ternama sejak zaman kolonial.

Tak seperti namanya yang rumit diucapkan, tampilan roti bentuk segi empat ini amat sederhana. Warnanya coklat polos dan menggembung di bagian tengah seperti bantal kecil.

Rasa roti kolmbeng manis, legit, dan terasa empuk saat digigit. Sebaliknya, bagian tepi roti ini justru garing dan beremah. Jika tidak hati-hati dimakan, butiran tepung akan jatuh atau tersangkut di ujung-ujung bibir.

Konon, roti kolmbeng di masa lalu adalah makanan agung bagi rakyat jelata. Kolmbeng hanya tersaji di acara khusus, semisal kenduri atau pesta pernikahan. Roti itu juga kerap disandingkan dengan kue apem sebagai hantaran sesaji pada tradisi nyadran di bulan Ruwah menurut kalender Jawa.

Di Kota Yogyakarta, roti kolmbeng dulu hanya dijual oleh pedagang bakul tenongan dengan cap PA, atau Paku Alaman, di luar Pasar Beringharjo. Kelura han Paku Alaman memang sempat terkenal sebagai sentra penghasil roti kolmbeng mulai 1950 sampai sekitar akhir era 1990-an.

Kini, tidak ada lagi pembuat kolmbeng di Paku Alaman. Salah seorang pembuat kolmbeng yang masih bertahan, Cipto Diyono (66), memilih menetap di Dusun Diran, Desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo. Sejak tahun 2000 sampai sekarang, ia aktif memproduksi roti kolmbeng hingga 2.500 buah per hari.

Roti-roti itu saya pasarkan ke Bantul, Yogyakarta, dan Kulon Progo. “Kemampuan produksi kami terbatas karena hanya melibatkan tenaga dari keluarga,” ujarnya, Selasa (11/8).

Ia menambahkan, tidak semua orang bisa membuat kolmbeng. Bahan-bahannya memang sederhana, seperti tepung tapioka, gula pasir, telur, dan ragi. Tetapi, diperlukan ketelatenan mengolah adonan hingga mencapai rasa dan tekstur yang pas.

Maryati (40), anak tertua Cipto, membenarkan pernyataan ayahnya. Ia sendiri butuh waktu lebih dari lima tahun untuk belajar membuat roti kolmbeng. Itu pun ternyata masih belum cukup karena roti bikinan Maryati sering gagal mengembang jika ia teledor menyeleksi kualitas bahan baku.

Kalau tepung tapioka tidak berusia tua atau telur tidak segar, adonan pasti kempes dan bantat. Padahal, untuk satu resep adonan dibutuhkan lima kilogram telur dan gula, serta tujuh kilogram tepung tapioka, ujarnya.

Selain itu, mematangkan kolmbeng juga membutuhkan oven khusus dari gerabah. Di dapur Cipto, loyang alumunium yang telah berisi adonan dimasukkan ke dalam kuali tanah liat di atas bara arang. Setelah itu, kuali ditimpa dengan kuali lain yang diisi dengan bara arang. Panas dari bagian atas dan bawah kuali akan mematangkan kolmbeng dalam 10 menit.

Saat baru matang, roti akan mengeluarkan aroma harum dan terasa kenyal. Kolmbeng yang masih hangat itu bisa langsung dimakan, tetapi biasanya Cipto akan mendiamkan roti selama satu hari penuh agar lebih padat. Tekstur roti yang padat dan empuk lebih di gemari pembeli.

Roti kolmbeng yang telah matang sempurna akan bertahan sampai satu minggu. Karena itu, zaman dulu kolmbeng kerap dijadikan bekal perjalanan bagi warga yang akan pergi jauh karena awet dan tidak mudah basi.

Pembuatan kolmbeng yang tidak mudah ini dimaknai Cipto sebagai proses kehidupan. Untuk meraih tujuan yang mulia, manusia harus tekun berusaha. Namun, saat sudah mencapai tujuan itu, manusia harus tetap sederhana. Sesederhana roti kolmbeng yang apa adanya dan tidak berlebih-lebihan.

Membuat roti kolmbeng cukup untuk menghidupi saya, istri, dan enam anak. Dua di antaranya bahkan sudah sukses sekolah sampai perguruan tinggi. Tidak ada yang percaya saya dapat melakukannya, ujar pria yang sehari-hari gemar mengenakan kaos dalam dan celana pendek ini.

Nama kolmbeng sendiri masih misteri. Sejauh ini, tidak ada yang tahu pasti apa arti sesungguhnya dari nama yang terkesan bernuansa oriental itu.

Apalagi, nama roti diucapkan berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang menyebut kolomben, klemben, atau klomben, tapi semua tetap merujuk ke satu jenis roti yang sama.

Cipto menduga kolmbeng adalah singkatan kalimat bahasa Jawa kolo mbiyen yang berarti masa lalu. Mungkin karena roti ini selalu mengingatkan kita akan kenangan masa lalu, ketika makanan enak masih jarang dijumpai, katanya.

Sekarang, roti kolmbeng semakin tenggelam oleh ketenaran penganan modern lain. Ia kian sulit dicari, bahkan di pasar tradisional sekalipun. Nama kolmbeng mungkin hanya dikenal di kalangan orang-orang tua saja dan asing bagi pemuda.

Tetapi, Cipto optimistis roti tradisional ini tidak akan benar-benar punah. Setidaknya roti kolmbeng akan selalu ada kendati hanya sebagai pelengkap uba rampe , atau sesaji, di upacara-upacara adat tradisional.

Kisah perjalanan roti kolmbeng memang tidak berakhir bahagia. Dulu begitu dipuja, tetapi sekarang ia tersia-sia. Padahal, kolmbeng adalah warisan pusaka kuliner yang sudah seharusnya dilestarikan.

Roti kolmbeng seolah hanya jadi bagian masa lalu yang tidak relevan dengan masa kini. Seperti pemeo yang sering dilagukan oleh masyarakat Jawa, klemben-klemben/roti-roti// Mbiyen-mbiyen/saiki-saiki// .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s