Garapan Sekar Gending Karya Mang Koko

Posted: August 14, 2009 in Event
Tags: , , , , , , , ,
Tanggal Pelaksanaan: Rabu, 19 Agustus 2009
Waktu: 19.00 WIB
Tempat: Bale Rumawat Padjadjaran Kampus Unpad Jln. Dipati Ukur 35 Bandung

Deskripsi:

Ka Mang Koko Hamo Poho, Ka Ida Rosida Nyukcruk Karyana
“Garapan Sekar Gending Karya Mang Koko”

Sebagai penghargaan kepada almarhum Mang Koko, seniman besar Sunda, Unpad akan menghadirkan pergelaran berjudul Ka Mang Koko Hamo Poho, Ka Ida Rosida Nyukcruk Karyana: “Garapan Sekar Gending Karya Mang Koko”. Pertunjukan ini merupakan rangkaian karya-karya Mang Koko dengan narasumber Ida Rosida. Ia adalah putra ke-5 Mang Koko yang konsisten terhadap karya-karya ayahnya. Ida Rosida kini menjadi staf pengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 10 Bandung.

H. Koko Koswara (1917 – 1985) atau yang akrab dipanggil Mang Koko adalah pelopor pembaharu karawitan sunda dan diakui sebagai maestro karawitan sunda. Keberhasilan Mang Koko dalam menggali, membina, dan mengembangkan karawitan Sunda tidak dapat dipungkiri telah memberikan kontribusi besar dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian Sunda. Di samping itu, Mang Koko mampu merangsang kreativitas seniman lainnya untuk mempertahankan keberadaan seni-seninya.

Selama hidupnya, Koko Koswara telah menerima berbagai piagam penghargaan antara lain dari Gubernur Kepala Daerah Tk. I Jawa Barat (Mashudi) pada 1966 dan Solihin GP (1975), Wali Kota Madya Daerah Tk. II Bandung (H. Utju Djunaedi) pada 1977, Rektor Unpad (Prof. R.S. Soeria Atmaja) pada 1970, Pengurus Daerah V PGRI Jawa Barat (R.H. Taman Sastradikarna) tahun 1983, dan masih banyak lagi.

Sedangkan penghargaan tertinggi dari pemerintah adalah Piagam Anugrah Seni yang menyatakan Koko Koswara (Mang Koko) sebagai “Pembaharu dalam Seni Karawitan Sunda” yang diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kabudayaan (Mashuri) tahun 1971. Tahun 1983 Pemda Tk. I Jawa Barat (Aang Kunaefi) memberi penghormatan kepada Mang Koko untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya Pemda.

Karya-karyanya sudah banyak dikenal masyakarat luas. Lagu berjudul “Badminton” yang dirilis pada 1955 oleh Irama Recording misalnya, hingga saat ini masih banyak dinyanyikan oleh berbagai generasi. Karya-karya tradisi, seperti Degung Klasik Instrumental, Jenakaan (Jenaka Sunda), Kliningan, dan Tembang Sunda Cianjuran yang diciptakannya sejak 1974 juga masih dimainkan hingga kini.

Menurut data Wikipedia.com, bakat seni yang dimiliki Mang Koko berasal dari ayahnya yang tercatat sebagai juru mamaos Ciawian dan Cianjuran. Kemudian ia belajar sendiri dari seniman-seniman ahli karawitan Sunda yang sudah ternama dan mendalami hasil karya bidang karawitan, termasuk Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seorang ahli musik Sunda. Mang Koko juga tercatat telah mendirikan berbagai perkumpulan kesenian, diantaranya Jenaka Sunda Kaca Indihiang (1946), Taman Murangkalih (1948), Taman Cangkurileung (1950), Taman Setiaputra (1950), Kliningan Ganda Mekar (1950), Gamelan Mundinglaya (1951), dan Taman Bincarung (1958).

Mang Koko juga mendirikan sekaligus menjadi pimpinan pertama dari “Yayasan Cangkurileung”, yang cabang-cabangnya tersebar di lingkungan sekolah-sekolah di provinsi Jawa Barat. Ia juga mendirikan dan menjadi pimpinan Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Bandung (1971). Pernah pula ia menerbitkan majalah kesenian “Swara Cangkurileung” (1970-1983).

Karya cipta kakawihan yang ia buat dikumpulkan dalam berbagai buku, baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih berupa naskah-naskah, diantaranya Resep Mamaos (Ganaco, 1948), Cangkurileung (3 jilid/MB, 1952), Ganda Mekar (Tarate, 1970), Bincarung (Tarate, 1970), Pangajaran Kacapi (Balebat, 1973), Seni Swara Sunda/Pupuh 17 (Mitra Buana, 1984),Sekar Mayang (Mitra Buana, 1984), Layeutan Swara (YCP, 1984),  Bentang Sulintang/Lagu-lagu Perjuangan, dan sebagainya.

Karya-karyanya bukan hanya dalam bidang kawih, tapi juga dalam bidang seni drama dan gending karesmen. Dalam hal ini tercatat misalnya Gondang Pangwangunan, Bapa Satar, Aduh Asih, Samudra, Gondang Samagaha, Berekat Katitih Mahal, Sekar Catur, Sempal Guyon, Saha?, Ngatrok, Kareta Api, Istri Tampikan, Si Kabayan, Si Kabayan jeung Raja Jimbul, Aki-Nini Balangantrang, Pangeran Jayakarta, dan Nyai Dasimah.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s