Gunung Merapi, Ganas Namun Memesona

Posted: August 11, 2009 in gunung
Tags: , ,

Mendakilah secara bijak…
Jangan mengambil apa pun kecuali gambar…
Jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak…
Jangan membunuh apa pun kecuali waktu…

Demikian bunyi imbauan pada papan yang terdapat di jalur pendakian. Gunung Merapi dengan ketinggian 2.960 meter dari permukaan laut (dpl) terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meskipun termasuk gunung berapi aktif dengan efek letusannya yang dahsyat mengerikan, gunung Merapi tetap menjadi objek pendakian populer bagi pendaki lokal maupun turis mancanegara.

Saat meletus, awan panas Gunung Merapi yang suhunya mencapai ribuan derajat Celsius bentuknya bulat bergumpal-gumpal mirip bulu domba. Penduduk setempat menyebutnya wedhus gembel (wedhus=domba, gembel=bulat keriting padat).

Untuk mencapai puncaknya, ada dua jalur pendakian yang umum, dari Selo (Jateng) dan Kaliurang (DIY). Jalur Selo paling banyak dipakai karena jalurnya cukup jelas dan nyaman, sedangkan jalur Kaliurang lebih curam. Kali ini penulis akan membahas jalur dari Selo, kota yang bisa dicapai dari Solo maupun Magelang. Paling dekat dan gampang adalah dari Solo.

Dari Terminal Tirtonadi Solo, naik bus ke Boyolali yang berjarak 26 kilometer dengan tiket Rp 6.000,00. Sampai Boyolali, ganti bus jurusan Magelang. Jarak Boyolali-Selo sejauh dua puluh kilometer cukup dengan membayar tiket Rp 6.000,00. Di sebelah kiri jalan, tampak Gunung Merapi dengan puncaknya yang gundul dan terus mengepulkan asap, sementara di seberangnya menjulang Gunung Merbabu. Di tengah kedua gunung inilah terletak Kota Selo.

Sampai Selo, turun di pertigaan New Selo yang letaknya dua kilometer dari Pasar Selo. Dari pertigaan ini, naik ojek menuju New Selo di Desa Plalangan dengan tarif Rp 5.000,00. Jalannya beraspal menanjak dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.

New Selo adalah Gardu Pandang yang bisa dipakai untuk menginap. Terkadang para pendaki menggunakan rumah penduduk yang disewakan untuk menginap dengan harga berkisar Rp 50.000,00 – Rp 75.000,00. Untuk informasi bisa tanya ke tukang ojek atau Pak Sakiran, petugas parkir New Selo yang kadang merangkap sebagai guide. Tidak ada petugas yang mendata pendaki karena memang tidak ada pos dan gerbang masuknya.

Waktu tempuh naik sampai puncak Garuda rata-rata 5-6 jam dan turun 3-4 jam. Berikut ini penulis paparkan suasana pendakian pagi hari yang dilakukan pada tanggal 8 Juli 2009.

New Selo-Pos 1: Tidak ada petunjuk jarak ataupun peta jalur. Jalur pendakian dimulai dari jalan setapak di sisi kanan bangunan. Dari awal sudah langsung menanjak, berdebu, dan terkadang bercampur kerikil dengan ladang penduduk dan pinus di kedua sisi jalan. Pagi hari banyak dijumpai nenek-nenek yang turun gunung sambil memikul kayu bakar ataupun rumput. Beberapa ekor monyet tampak bergelantungan di pepohonan hutan campuran. Keluar hutan, sampailah di Pos 1 yang berupa tugu setinggi 1 meter. Berdasarkan catatan waktu, diperkirakan sampai Pos 1 perjalanan sudah mencapai tiga puluh persen.

Pos 1-Pos 2: Mengawali perjalanan dari Pos 1, batu besar dengan celah selebar badan orang dewasa seolah-olah menjadi gerbang ke perjalanan selanjutnya. Pepohonan mulai jarang. Jalur tanah berganti berbatu-batu, sesekali landai kemudian menanjak terjal. Beberapa batu besar di tengah jalan yang harus dinaiki membuat perjalanan semakin mengasyikkan. Sampai Pos Tugu 2, perjalanan baru mencapai kira-kira lima puluh persen.

Pos 2-Makam: Di sebelah kiri di seberang jurang terdapat Watu Gajah, gundukan batu yang bentuknya menyerupai kepala gajah. Medan semakin terjal dengan batu-batu besar. Ada kalanya harus merayap untuk melewati batu-batu tersebut. Jalur ini menuntut kewaspadaan terhadap batu yang dipakai sebagai pijakan. Batu yang rontok, selain membahayakan diri sendiri, juga bisa membahayakan orang lain yang berada di bawahnya. Ujung dari jalur ini berakhir di bibir lembah dimana terdapat tiga buah makam pendaki. Angin bertiup sangat kencang di sini. Sampai sini, perjalanan sudah mencapai 75 persen.

Beberapa puluh meter di depan, tampak gundukan batu hasil muntahan letusan Merapi setinggi kurang lebih dua ratus meter. Asap mengepul dari kawah di atas bukit batu tersebut, itulah puncak Garuda, puncaknya Gunung Merapi. Bentuk bukit berbatu seperti kerucut dengan kemiringan lereng sekitar 35 derajat, memang bisa membuat mereka yang sudah kecapaian enggan meneruskan lagi perjalanannya ke puncak.

Makam-Puncak Garuda: Bagi mereka yang tidak berniat ke puncak Garuda, bisa meneruskan perjalanan ke kiri menuju pos Tugu 3. Jalannya menanjak tapi ringan dan tidak jauh. Dari sini, di barat tampak puncak Gunung Sindoro, Sumbing, dan Slamet, di timur puncak Lawu, serta di utara sangat jelas sekali Gunung Merbabu dengan kontur lerengnya.

Bagi yang ingin ke puncak Garuda, tinggal lurus saja menuruni Pasar Bubrah, lembah berisi hamparan batu-batu besar dan kecil. Menurut paranormal, di situ memang terdapat pasar makhluk halus. Banyak pendaki berkemah di sini.

Tidak ada jalur resmi apalagi jalan setapak menuju puncak. Medan berisi bongkahan batu-batu tajam tanpa ada satu tanaman pun yang tumbuh di situ. Dianjurkan memakai sarung tangan karena batunya kasar seperti ampelas. Ada beberapa batu yang dicat tanda panah warna merah yang bisa dipakai sebagai pedoman menuju puncak. Pendaki sesekali harus merayap mencari jalan. Kewaspadaan mutlak diperlukan saat mencari batu pijakan. Kecerobohan bisa berakibat fatal bagi diri sendiri maupun orang lain. Panjang jalur cuma sekitar lima ratus meter, tetapi dengan medan seperti itu terasa lama sekali menuju puncak.

Puncak Garuda dengan kawah yang tiada hentinya mengepulkan asap memberikan nuansa berbeda dengan puncak gunung yang sudah tidak aktif. Meski arah angin tidak menuju ke penulis, dianjurkan untuk tidak berlama-lama di puncak. Saat turun, kembali kewaspadaan dan kesabaran diperlukan karena jalur terlihat begitu curam dari atas. (Johanes AB)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s