Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. NYANGKU memiliki arti nyaangan laku (menerangi perilaku). Kalimat pendek yang mengandung makna luas itu dimanifestasikan masyarakat Panjalu Ciamis dalam upacara sakral dan unik. Acara ini diselenggarakan rutin tiap tahun pada bulan Maulud, tepatnya pada hari Senin atau Kamis di akhir bulan Mulud. Bentuknya tidak jauh beda dengan sekaten di Yogyakarta atau panjang jimat di Cirebon, atau upacara serupa di daerah lain.

Upacara Nyangku ini dilaksanakan pada Hari Senin atau Kamis terakhir Bulan Maulud (Rabiul Awal), pada prosesi ini benda-benda pusaka itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana.

Setelah itu, benda-benda pusaka diarak kembali ke Alun-alun Panjalu untuk disucikan lalu disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit. Tradisi Nyangku ini mirip dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga Panjang Jimat di Cirebon, hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.
Masyarakat Panjalu maupun keturunan Panjalu yang datang dari berbagai daerah berkumpul di kampung halamannya untuk menghadiri upacara tersebut. “Bukan untuk memuja-muja barang peninggalan leluhur, tetapi upacara tersebut diselenggarakan untuk mengingat jasa dan perjuangan leluhur masyarakat Panjalu, yakni Prabu Sanghiang Borosngora.

Pukul 9.00 WIB upacara Nyangku dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Raja Panjalu Borosngora, seperti pedang, keris, kujang dari Bumi Alit. Perlakuan khusus diberikan pada pedang yang konon merupakan pemberian Sayyidina Ali (sahabat Nabi Muhammad saw.) ketika Borosngora berkunjung ke Mekah. Borosngora, Raja Panjalu yang arif dan bijaksana dianggap sebagai leluhur masyarakat Panjalu dan penyebar agama Islam pertama di daerah Panjalu. Benda-benda peninggalannya selama ini tetap terjaga, disimpan dan dirawat dengan baik di Bumi Alit, bangunan kecil berbentuk panggung di dekat Alun-alun Panjalu.

Setelah benda-benda pusaka peninggalan Borosngora dikeluarkan dari Bumi Alit, lalu dibawa dengan sangat hati-hati menuju tempat upacara. Benda-benda itu digendong, tak ubahnya menggendong anak bayi diiringi tetabuhan gembyung dan teriakan selawat.

Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiring pembawa benda pusaka dan penabuh kesenian gembyung. Ratusan pengiring lainnya berada dalam barisan paling belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka tersebut ke tempat upacara di halaman kantor Desa Panjalu.

Puncak upacara, yang sekaligus merupakan saat yang paling dinantikan, ditandai dengan pembersihkan benda pusaka tersebut menggunakan air yang diambil dari beberapa mata air yang dicampur jeruk nipis. Di bawah panggung bambu yang digunakan sebagai tempat mencuci benda-benda pusaka tersebut, ratusan penduduk mengulurkan tangannya, mengharapkan
sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka. Mungkin dan sangat boleh jadi mereka mengharapkan berkah di saat menghadapi lilitan kesulitan ekonomi seperti sekarang.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s