Gunung Lawu, Gunung Para Pendaki dan Peziarah

Posted: August 7, 2009 in gunung, Knowledge
Tags: , , , , , , , , , , , ,

Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (dpl) terletak persis di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Gunung bernuansa mistis yang merupakan pusat kegiatan spiritual masyarakat Jawa ini, selain didaki kaum muda karena keindahan alamnya, didaki pula oleh kaum paruh baya–pria dan wanita–untuk berziarah ke tempat-tempat keramat.

Sendang Drajat, Sumur Jolotundo, Hargo Dumilah, Hargo Dalem, Hargo Dumiling, Telaga Kuning, Pasar Dieng, Kawah Condrodimuka, dan lain-lain, adalah tempat-tempat yang ramai dikunjungi para peziarah. Para peziarah ini meramaikan Gunung Lawu setiap akhir pekan, terutama saat malam 1 Suro (tahun baru kalender Jawa). Saking ramainya, sampai ada beberapa warung di atas gunung. Gunung ini diyakini sebagai tempat moksa (menghilang secara gaib) raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V yang dikenal sebagai Eyang Lawu, dan para pengikut setianya.

Di sekitar Lawu, terdapat tempat wisata Tawangmangu dengan air terjun Gerojogan Sewu, Sarangan dengan telaganya, Candi Sukuh, Candi Cetho. Lawu terkenal dingin dan mencapai puncaknya pada Agustus ini. Menurut seorang petugas, 25 tahun yang lalu suhu di puncak sampai minus sekian derajat Celsius di bawah nol, tetapi sekarang sekitar 5 derajat Celsius.

Mencapai lokasi

Ada dua jalur yang umum untuk mendaki Lawu. Jalur Cemoro Kandang di Jateng dan Cemoro Sewu di Jatim. Meski beda provinsi, kedua pos masuk jalur tersebut hanya terpisah sekitar 300 meter dan terletak di jalan yang sama, yaitu jalan raya Tawangmangu (Jateng) – Sarangan (Jatim). Panjang jalur Cemoro Sewu sekitar 7 km, tetapi lebih curam. Sementara itu, Cemoro Kandang lebih jauh 3 km, tetapi lebih landai.

Kali ini, penulis membahas pencapaian lokasi dari arah Jateng. Tujuan pertama adalah Solo, yang bisa dicapai langsung dengan kereta maupun bus dari Bandung. Apabila menggunakan kereta, dari Stasiun Solo Balapan harus ke Terminal Tirtonadi, terpaut sekitar 600 meter, bisa berjalan kaki atau naik becak dengan biaya Rp 5.000,00.

Dari Terminal Tirtonadi naik bus jurusan Tawangmangu. Bus terakhir pukul 17.00 WIB. Meski bus-busnya tua dengan mesin berisik, tetapi larinya masih kencang. Berangkatnya cukup tepat waktu, tetapi dalam perjalanan, ngetem dua kali, di Palur dan Karangpandan. Bus baru berangkat kalau bus di belakangnya sudah menyusul. Kalau terburu-buru, lebih baik naik ojek dari Terminal Tirtonadi ke Palur (KM 7), turun di rel kereta api. Di sini bus sudah keluar terminal, jadi tidak perlu menunggu bus ngetem. Jalan mulus dan lurus. Mendekati Tawangmangu jalannya baru berkelok-kelok. Jarak Solo-Tawangmangu 42 km ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit dengan tiket Rp 7.000,00.

Sampai Tawangmangu ganti angkot L-300 jurusan Sarangan. Uniknya, meskipun berpelat hitam dan warna beraneka macam, tetapi para sopirnya berseragam. Angkot ini terakhir beroperasi pukul 17.00 WIB. Lewat jam ini bisa naik ojek Rp 15.000,00.

Jarak Tawangmangu-Cemoro Sewu 10 km, ditempuh 35 menit dengan ongkos Rp 7.000,00. Angkot akan melewati pos Cemoro Kandang dulu sebelum sampai di Cemoro Sewu. Di depan pos masuk ada pelataran parkir yang cukup luas. Di sebelah kirinya ada base camp dan beberapa warung nasi di sekitarnya. Hanya satu nomor operator selular yang ada sinyal(karena BTS-nya dekat base camp) lainnya blank. Pukul 17.00 WIB, sudah terasa dingin.

Tidak ada penginapan di sini. Losmen/hotel terdekat adalah di tempat wisata Tawangmangu atau Sarangan. Bisa tidur di base camp dengan gratis. Kondisinya agak kurang terawat. Peta besar jalur pendakian terpampang di dinding. Dinding MCK-nya dari bambu dengan pintu yang susah ditutup rapat, tetapi kondisinya bersih karena airnya melimpah. Apabila penuh pendaki, pak Agus pemilik warung kadang menawarkan rumahnya untuk diinapi tanpa mematok harga.

Saat membeli tiket masuk seharga Rp 5.000,00, petugas minta KTP untuk dicatat identitasnya. Petugas di sana bukanlah petugas resmi dari Perhutani, tetapi para relawan yang dikoordinasi oleh Pak Rusli melalui handy talkie. Mereka juga bertugas sebagai tim SAR yang siap mengevakuasi pendaki yang mengalami masalah. Apabila ada laporan, Pak Rusli akan menanyai dengan sangat mendetail sampai yakin benar, karena laporan sering tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

Beberapa pantangan yang harus dipatuhi adalah, jangan berbuat mesum, ngomong jorok atau sombong, kencing sembarangan di tempat-tempat keramat, memakai pakaian warna hijau pupus (mirip daging alpukat), dan menangkap burung jalak jinak yang suka mengikuti, karena burung ini diyakini sebagai peliharaan Eyang Lawu.

Pendakian

Jalur pendakian berupa jalan berbatu dengan lebar bervariasi antara 1-2 m, dimulai dari awal hingga Hargo Dalem, puncak kedua di ketinggian 3.100 dpl. Umumnya para pecinta alam mencapai puncak utama 7-8 jam dan turun 5 jam. Berikut ini suasana pendakian pagi hari yang dilakukan pada Selasa (7/7).

Base Camp-Pos 1: Angin dingin sudah terasa di awal pendakian. Seperti namanya, Cemoro Sewu (cemara seribu), pohon cemara mendominasi. Kebun sayur penduduk, umumnya kol, banyak dijumpai. Semak belukar di sela-sela cemara dan di sisi jalan. Jalur masih menanjak ringan dan tenaga masih segar saat sampai Pos 1. Pos ini berupa bangunan permanen seperti pos ronda berukuran 3×4 m2, namun kotor. Pos seperti ini bisa dijumpai sampai Pos 3. Jarak base camp-Pos 1 sekitar 2 km.

Pos 1-Pos 2: Cemara masih cukup banyak. Jalan sudah lebih menanjak, tetapi belum terjal. Puncak sudah terlihat. Di jalur ini terdapat Watu Jago, yaitu batu besar mirip ayam jago. Sayangnya, batu unik ini tidak luput dari sasaran coretan tangan-tangan jahil. Selain itu, ada pohon setinggi 2 meter yang tumbuh di atas batu besar. Jarak Pos 1-Pos 2 sekitar 2 km. Burung jalak jinak mulai muncul dan sering mengikuti sampai atas.

Pos 2-Pos 3: Setengah perjalanan sudah terlewati. Cemara sudah jarang, berganti hutan ringan campuran. Pepohonan tidak terlalu besar dan rapat. Jalur ini terus menanjak terjal. Semakin mendekati Pos 3 semakin terjal. Meski jarak jalur ini cuma sekitar 0,7 km, tetapi jalur ini benar-benar menguras tenaga.

Pos 3-Pos 4: Jalur terus menanjak cukup terjal ditambah banyak kelokan. Ada beberapa jalur yang dibuat by pass. Ada pula pagar besi di sisi kanan jalur yang berfungsi sebagai pegangan saat turun. Tanaman masih hutan ringan campuran. Apabila pandangan di arahkan ke bawah, di sebelah kanan terlihat rumah-rumah di Tawangmangu yang tampak berserak kecil-kecil.

Dari puncak, tampak beberapa puncak gunung menyembul di atas awan. Di sebelah barat, Gunung Merapi dan Merbabu, di belakangnya agak samar terlihat Gunung Sumbing dan Sindoro. (Johanes AB)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s